Ketika Pemimpin Terlalu Baik Justru Membuat Tim Berhenti Berkembang

Andi TobanPublished 26 Jul 2026 - 12.35 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Ketika Pemimpin Terlalu Baik Justru Membuat Tim Berhenti Berkembang
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Di banyak kantor, ada fenomena yang berulang: begitu atasan mengambil cuti dua hari, jam masuk kembali lentur, tenggat proyek tiba-tiba terasa seperti anjuran, dan rapat pagi yang biasanya dimulai pukul sembilan baru benar-benar hidup lima belas menit kemudian. Ini bukan soal hilangnya etos kerja, melainkan cermin bahwa disiplin tim kadang dibangun di atas kehadiran satu orang—bukan di atas kesadaran bersama. Situasi semacam itu melahirkan pertanyaan yang jarang diutarakan: apakah kenyamanan yang diciptakan seorang pemimpin benar-benar menumbuhkan tim, atau justru menyembunyikan rapuhnya standar?

Di sinilah perbedaan mendasar antara pemimpin yang sekadar baik (nice) dan pemimpin yang benar-benar peduli (kind) mulai menjadi penting. Pemimpin yang nice ingin disukai. Ia menghindari ketegangan, menunda teguran, dan memilih kalimat yang menenangkan. Saya pernah mendengar seorang staf memuji, “Atasan saya orangnya baik banget.” Namun ketika diamati lebih dekat, tenggat mundur tanpa konsekuensi, evaluasi nyaris tak pernah diadakan, dan karyawan yang berkinerja tinggi mendapat perlakuan yang sama dengan mereka yang berulang kali mengulangi kesalahan. Niatnya menjaga harmoni. Hasilnya, batas antara perilaku yang bisa diterima dan yang tidak perlahan mengabur.

Also Read

Kaesang Terjun ke Sarang Para Raksasa, Deklarasikan Pencalegan DPR di Dapil Neraka Jateng V

Dampaknya paling terasa bukan pada anggota yang terlambat, melainkan pada orang-orang yang selama ini paling disiplin. Mereka berhenti menegur rekan yang lalai, bukan karena masa bodoh, melainkan karena menyadari suara mereka tak akan mengubah apa pun selama pemimpin sendiri memilih diam. Inilah titik ketika standar tim meluncur turun bukan akibat minimnya kemampuan, tetapi karena ketiadaan konsekuensi. Sebaliknya, pemimpin dengan pendekatan kind tidak selalu memilih jalan yang enak. Ia bisa berkata, “Kerja kerasmu saya apresiasi. Tapi keterlambatan ini mulai mengganggu rekan yang lain. Apa yang sebenarnya menjadi hambatan? Mari kita rancang perbaikan bersama.” Kalimat itu tidak melukai, tetapi juga tidak membiarkan. Di baliknya ada keberanian untuk merawat standar tanpa kehilangan empati.

Temuan Gallup dalam State of the Global Workplace 2024 memperkuat gambaran ini. Hanya sekitar 23 persen pekerja global yang merasa benar-benar engaged—terikat secara emosional dan sadar akan peran mereka. Salah satu faktor paling konsisten yang memengaruhinya adalah kualitas hubungan dengan atasan: kejelasan ekspektasi, umpan balik yang jujur, dan dukungan untuk berkembang. Orang tidak sekadar ingin dihargai; mereka juga butuh tahu di mana mereka berdiri, apa yang masih harus diperbaiki, dan bagaimana mereka bisa naik kelas. Tanpa arah yang tegas, rasa nyaman berubah menjadi zona yang membuat semua orang berpuas diri, dan potensi ikut tertidur.

Also Read

Tragedi Bus Terbakar di Suriah Renggut 35 Nyawa dan Menyoroti Infrastruktur Jalan yang Terabaikan

Menjadi tegas tidak harus berarti menjadi keras. Ketika ketegasan berubah menjadi intimidasi, yang muncul adalah kepatuhan yang dibungkam, bukan rasa hormat. Kreativitas meredup, dan keberanian menyampaikan ide ikut layu. Dibutuhkan keseimbangan: hangat dalam memperlakukan manusia, tetapi kokoh dalam mempertahankan standar. Di ujung perjalanan, bawahan mungkin melupakan seberapa ramah seorang atasan, tetapi mereka selalu ingat apakah bersama pemimpin itu mereka bertumbuh atau justru berhenti berkembang. Di situlah ukuran kepemimpinan sejati terletak.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca