Nakes Jelbuk Menembus Jurang Demi Selamatkan Balita Stunting dan Ibu Hamil

Uria Anyi ApuiPublished 25 Jul 2026 - 22.40 · 2 Reads
Bagikan WhatsAppX
Nakes Jelbuk Menembus Jurang Demi Selamatkan Balita Stunting dan Ibu Hamil
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Di antara jalur setapak yang menukik tajam dan diapit jurang di kiri-kanan, rombongan tenaga kesehatan Puskesmas Jelbuk berjalan hampir satu jam demi menyambangi warga di Dusun Tenap dan Tancak, Desa Sucopangepok, Kabupaten Jember. Tidak ada kendaraan roda empat yang bisa menembus medan itu. Namun keterpencilan geografis tak lagi menjadi penghalang mutlak bagi warga lereng gunung untuk memperoleh layanan kesehatan. Pemerintah Kabupaten Jember kini menghadirkan Homecare, sebuah program jemput bola yang membawa tenaga medis langsung ke rumah-rumah kelompok paling rentan.

Imroah, seorang ibu di Dusun Tenap, merasakan langsung perbedaan itu. Sembari menggendong Kevin Maulana, putranya yang baru berusia 18 bulan, ia menceritakan perjuangan melawan stunting. Kevin lahir dengan bobot hanya 2,3 kilogram dan kini berat badannya tertahan di angka 7 kilogram—jauh dari ideal. Dulu, memeriksakan si kecil berarti menempuh perjalanan panjang yang menguras tenaga. Berkat program Homecare, petugas Puskesmas datang ke depan pintunya, membawa susu formula dan pemantauan gizi secara rutin. Rasa syukur tak henti terlontar dari bibir Imroah. “Anak saya jadi lebih terawat, senang sekali dibantu pemerintah,” tuturnya dengan mata berbinar.

Tak berganti dusun, di Tancak, kisah serupa dijalani Intan Nur Aini. Di usianya yang baru 19 tahun, ia baru dua bulan melahirkan Nadira Kansa Aulia. Kehamilannya dulu berstatus risiko tinggi karena usia muda dan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kini, dalam masa nifas, ia menjadi salah satu sasaran prioritas homecare. Intan mengenang betapa berat kondisi sebelumnya: jalanan terjal dan terik membuatnya enggan membawa bayi periksa. “Jalannya susah, apalagi bawa anak sekecil ini, kasihan,” katanya suatu siang. Sekarang, tanpa perlu menempuh rute melelahkan, ia dan bayinya diperiksa di rumah. Intan merasa beban yang dulu mengimpitnya perlahan terangkat.

Also Read

Diam-Diam Layar Menggerogoti Tubuh dan Mental Anda

Kepala Puskesmas Jelbuk, Machus Rovida, menjelaskan bahwa homecare digerakkan secara terjadwal untuk menjangkau enam desa dengan dukungan sekitar 40 tenaga kesehatan, termasuk perawat dan bidan. Mereka memprioritaskan warga berpenghasilan rendah, penderita penyakit kronis, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil berisiko tinggi, dan anak-anak dengan stunting. Data di lapangan menunjukkan urgensi intervensi: hampir 50 persen ibu hamil di wilayah ini masuk kategori risiko tinggi, sementara lebih dari 200 balita tercatat bermasalah dengan stunting. Para lansia dan disabilitas pun telah dipetakan. “Kami tidak memandang ekstremnya medan. Sejauh apa pun, pelayanan harus berjalan merata,” ujar Rovida.

Dedikasi itu diuji setiap kali tim turun ke lapangan. Medan Dusun Tancak, misalnya, hanya bisa dilibas dengan berjalan kaki, menyusuri tanjakan terjal dan jalan setapak di tepi jurang. Namun rasa lelah itu terbayar ketika mendapati ibu-ibu seperti Imroah dan Intan tak lagi harus mempertaruhkan keselamatan demi berobat. Rovida menyampaikan terima kasih kepada Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang meluncurkan program tersebut. Menurutnya, homecare memberi energi baru bagi para tenaga kesehatan untuk melayani secara maksimal. “Harapannya, semua warga Jember, bahkan di sudut paling sunyi, bisa merasakan hadirnya negara lewat pelayanan yang berkeadilan,” katanya.

Also Read

Hipertensi Intai 1,9 Juta Siswa, Skrining Massal Bongkar Potret Kesehatan Pelajar

Kini, di lereng gunung yang dulu hanya berisi suara angin dan langkah kaki para petani, bergema cerita tentang akses yang tak lagi berjarak. Program sederhana yang mendatangi, bukan menunggu didatangi, membalik logika lama pelayanan kesehatan. Dari tangan-tangan terlatih para nakes yang rela menembus jurang, tumbuh harapan untuk memutus rantai stunting dan melindungi para ibu muda. Imroah dan Intan hanyalah dua dari ratusan warga yang kembali percaya bahwa kesehatan bukanlah kemewahan geografis, melainkan hak yang kini bisa tergenggam.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca