Di tengah iklim politik yang mulai memanas menjelang Pemilu 2029, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep melempar sinyal keberanian yang tak biasa. Di hadapan kader DPD PSI Solo, Sabtu lalu, ia mengumumkan diri akan bertarung di Daerah Pemilihan Jawa Tengah V—wilayah yang selama ini dijuluki “dapil neraka” karena menjadi kandang para tokoh senior berpengaruh, termasuk Ketua DPR RI Puan Maharani dan politisi senior Aria Bima dari PDI Perjuangan. Langkah ini segera menjadi pemicu konsolidasi raksasa untuk partai yang dipimpinnya.
Alih-alih gentar, Kaesang justru membingkai pencalonannya lewat pendekatan sosial-akar rumput yang menjadi nyawa baru bagi PSI. Kepada para kader, ia menekankan kehadiran yang tulus di tengah masyarakat—mulai dari menghadiri pengajian, menjaga silaturahmi tetangga, hingga melayat saat warga berduka. “Kita hadir sebagai warga biasa yang ingin merawat ikatan kemanusiaan,” begitu kurang lebih pesannya. Strategi ini menegaskan bahwa PSI tidak akan semata bertarung lewat jargon politik, tetapi melalui gestur-gestur kecil yang membangun kepercayaan dan ingatan kolektif pemilih.
Bupati Bawa Suara Daerah ke Senayan, DPR Berikrar Jaga Kualitas Layanan Dasar

Di dalam ruang yang sama, Kaesang menggariskan disiplin ketat bagi para calon legislator yang akan mewarnai Surakarta. Ia memperingatkan agar tidak terjadi perang antarsesama kader di basis suara yang sama. Target 15 kursi DPRD Kota Solo yang dipatok bukan sekadar angka, melainkan tantangan kolektif yang harus dimenangkan dengan kekompakan, bukan dengan menggerus sesama pengusung partai. “Saya tidak ingin ada calon nomor satu dan nomor dua yang saling bergesekan karena tidak ada yang mau mengalah,” ujarnya, sembari mendorong para kader yang tidak turut menjadi caleg agar tetap menggerakkan mesin partai secara solid.
Menariknya, meski menyatakan akan bertarung di Dapil Jateng V yang luas, Kaesang hanya akan fokus pada wilayah Kota Solo. Ia menyebut Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten sudah memiliki penanggung jawab lain yang akan mengelola teritori secara mandiri. Pernyataannya dengan rendah hati mengakui, “Teritori yang diberikan kepada saya hanya di Kota Solo.” Narasi ini membuat pencalonannya terasa personal dan terfokus—seolah ia sedang menantang dirinya sendiri untuk merebut hati publik di rumah politik yang sama-sama dikenal oleh dinasti politik nasional.
Ketika Pemimpin Terlalu Baik Justru Membuat Tim Berhenti Berkembang

Ketua DPW PSI Jawa Tengah, Antonius Yugo Prabowo, mengaku terkejut mendengar deklarasi tersebut, namun langsung memaknainya sebagai marwah partai. Baginya, keputusan Ketua Umum turun langsung ke medan laga di dapil paling berat adalah instruksi mutlak yang harus dimenangkan. “Tidak ada kata lain bagi kami selain kerja keras untuk memenangkan Kaesang,” katanya, sambil memastikan konsolidasi akan digerakkan hingga tingkat rukun tetangga. Dengan semangat itu, PSI tak sekadar mengusung kandidat muda, tetapi menjadikan Dapil Jateng V sebagai ajang membuktikan bahwa kekuatan ketulusan dan solidaritas mampu menembus benteng politik yang telah lama berdiri kokoh.






