Pemerintahan Prabowo Subianto mematok sasaran jangka panjang yang ambisius: menghadirkan 500 Sekolah Rakyat di seluruh pelosok Indonesia pada 2029. Sasaran ini tidak sekadar deret angka statistik, melainkan komitmen untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan berasrama gratis yang menyasar keluarga paling rentan. Hingga pertengahan 2026, sudah 166 sekolah berdiri, dan kini 182 titik baru disiapkan untuk tahun ajaran mendatang. Anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem perlahan mulai memiliki alamat harapan.
Cetak biru penambahan 182 titik itu membawa warna baru dalam lanskap pendidikan inklusif. Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Kurnia Ramadhana, memerinci bahwa di dalamnya terdapat 93 sekolah permanen yang siap beroperasi, 81 sekolah rintisan tetap yang statusnya ditingkatkan, serta 85 sekolah rintisan murni yang baru dibangun. Komposisi ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mendirikan unit baru, tetapi juga memperkuat pondasi yang sudah ada agar setiap rupiah dari anggaran negara bekerja lebih maksimal.
Dari Pengangkut Energi Menjadi Pemain Logistik Maritim Terpadu, PIS Bukukan Lompatan Bisnis di 2025

Data Kementerian Sosial per 17 Juli 2026 memperlihatkan wajah program ini di lapangan: 166 Sekolah Rakyat rintisan yang sudah beroperasi pada tahun ajaran 2025/2026 telah menampung 14.776 peserta didik. Mereka tersebar di 141 kabupaten dan kota di 34 provinsi, merajut keberagaman Indonesia di bawah satu atap asrama. Dengan hadirnya 182 titik baru, pemerintah menargetkan tambahan 28.568 murid pada 2026/2027, yang terdiri dari 6.305 siswa SD, 11.186 siswa SMP, dan 11.077 siswa SMA. Jika digabung dengan siswa eksisting, total sementara peserta didik di seluruh Sekolah Rakyat menembus angka 43.344 anak.
Ekspansi tidak berhenti sampai di situ. Pada periode 2027–2028, pemerintah merencanakan penambahan 100 hingga 200 unit per tahun. Laju ini akan mencapai puncaknya pada 2029, ketika 500 Sekolah Rakyat ditargetkan beroperasi di 38 provinsi dan 416 kabupaten/kota. Kurnia menekankan bahwa setiap tahap akan diukur dampaknya secara jangka menengah dan panjang. “Pemerintah terus mengukur dampak jangka menengah dan panjang dari program ini,” ujarnya, menegaskan bahwa besar-besaran proyek ini harus berbanding lurus dengan mutu dan daya ubah yang dihasilkan.
Koperasi Desa Merah Putih Disiapkan sebagai Ujung Tombak Baru Penyaluran Bansos

Sekolah Rakyat lahir dari filosofi bahwa kemiskinan bukan kutukan abadi. Model asrama memungkinkan anak-anak tidak sekadar mengecap pelajaran, tetapi juga memperoleh gizi, tempat tinggal, dan pendampingan yang kerap absen di lingkungan asal mereka. Intervensi penuh semacam ini diyakini menjadi elevator sosial yang bisa mengangkat generasi penerus dari jurang kemiskinan struktural. Pemerintah berjanji akan menjadikan evaluasi berkala sebagai napas program, agar setiap tambahan unit bukan sekadar seremoni pembangunan, melainkan jembatan nyata menuju masa depan yang lebih setara.






