Musim semi tahun ini menandai peristiwa alam yang sangat langka di Amerika Serikat dengan dimulainya fenomena cicada brood 2024. Dua kelompok besar serangga berkala, yaitu Brood XIX yang memiliki siklus hidup 13 tahun dan Brood XIII dengan siklus hidup 17 tahun, muncul ke permukaan secara bersamaan. Peristiwa ganda ini terakhir kali terjadi pada musim semi tahun 1803, masa ketika Thomas Jefferson masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Kini, triliunan serangga bermata merah tersebut kembali memenuhi wilayah pemukiman hingga hutan di berbagai negara bagian.
Siklus hidup serangga ini sebagian besar dihabiskan di dalam tanah untuk mengisap cairan dari akar rumput dan pepohonan. Ketika suhu tanah mencapai sekitar 64 derajat Fahrenheit atau 17 derajat Celsius, mereka akan mulai keluar dari sarangnya. Proses kemunculan ini biasanya terjadi saat senja. Setelah merayap naik ke pepohonan, cicada akan melepaskan kulit kepompongnya dan bertransformasi menjadi serangga dewasa dengan mata merah menyala. Diperkirakan, satu acre lahan dapat dipenuhi oleh lebih dari 1 juta cicada dengan bobot total mencapai sekitar 2.700 pon.
Waktu kemunculan serangga ini bervariasi tergantung pada wilayah geografis dan suhu udara setempat. Di negara bagian selatan seperti Alabama, cicada umumnya mulai terlihat pada bulan April atau awal Mei. Sementara itu, di wilayah yang lebih dingin seperti Illinois, serangga ini baru akan muncul belakangan pada musim semi. Fenomena musiman ini diperkirakan berlangsung selama kurang lebih empat minggu. Paula Shrewsbury, seorang profesor di Departemen Entomologi Universitas Maryland, bersama para pakar lainnya menegaskan bahwa cicada sama sekali tidak berbahaya bagi manusia, hewan peliharaan, maupun kelestarian alam secara umum.
Badai Salju Melanda Wilayah AS, Peringatan Cuaca Buruk Diterbitkan

Meskipun tidak berbahaya, kehadiran triliunan serangga ini memicu pengamatan mendalam di kalangan ilmuwan mengenai dampaknya terhadap rantai makanan lokal. Di satu sisi, ledakan populasi cicada menjadi berkah bagi predator. Penelitian yang dilakukan oleh ahli burung dari Universitas Cornell, Walt Koenig, menunjukkan adanya hubungan antara kemunculan cicada dengan lonjakan populasi beberapa spesies burung, seperti burung pelatuk berkepala merah (red-headed woodpecker) dan burung grackle biasa (common grackle).
Namun, melimpahnya pasokan makanan ini juga menimbulkan efek domino yang tidak terduga pada ekosistem hutan. Zoe Getman-Pickering, seorang ekolog dari Universitas Massachusetts Amherst, mencatat perubahan perilaku burung pemangsa saat kemunculan Brood X pada Mei 2021. Karena burung-burung beralih memburu cicada, serangan terhadap ulat tiruan dari tanah liat di hutan Maryland menurun drastis dari sekitar 30 persen menjadi di bawah 10 persen. Akibatnya, populasi ulat riil di hutan yang diteliti melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan dengan dua tahun berikutnya.
Perkembangan Sidang Kasus Uang Penutup Mulut Donald Trump, Jaksa Selesaikan Pembuktian

Dampak negatifnya kemudian dirasakan oleh vegetasi setempat. Populasi ulat yang tidak terkendali menyebabkan kerusakan daun pohon ek (oak) melonjak tajam pada musim panas 2021. Selain itu, Walt Koenig menemukan bahwa pohon ek menghasilkan lebih sedikit biji pohon ek (acorn) selama tahun kemunculan cicada dan satu tahun setelahnya. Kompleksitas hubungan timbal balik ini terus dipelajari oleh para peneliti seperti Louie Yang dari Universitas California Davis, serta Karin Berghardt dan Kelsey McGurrin dari Universitas Maryland, guna memahami bagaimana alam merespons kehadiran cicada brood 2024 yang masif ini.






