Kebijakan pembatasan kadar nikotin dan tar pada produk tembakau kini memicu perdebatan sengit di berbagai sektor. Di balik desakan regulasi kesehatan yang menginginkan perubahan cepat di sisi konsumsi, terdapat realitas agronomis yang sangat kontras di sektor hulu pertanian. Kementerian Pertanian mengingatkan bahwa menciptakan varietas tembakau lokal dengan kadar nikotin rendah bukanlah perkara instan. Para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama kementerian membutuhkan waktu setidaknya 30 tahun untuk melakukan riset mendalam agar menghasilkan benih unggul yang tetap adaptif di lahan tropis Indonesia.
Proses perumusan regulasi ini dinilai kurang melibatkan Kementerian Pertanian secara menyeluruh. Hal tersebut dikarenakan rancangan aturan yang sedang digodok bersandar pada mandat Undang-Undang Kesehatan yang mengatur aspek hilir atau konsumsi, bukan pada regulasi yang mengatur sektor hulu pertanian. Walau ruang keterlibatannya terbatas, Kementerian Pertanian tetap aktif menyuplai data-data komoditas tembakau yang komprehensif agar kebijakan yang dilahirkan nantinya tidak meleset dari fakta di lapangan.








