Kebijakan pembatasan kadar nikotin dan tar pada produk tembakau kini memicu perdebatan sengit di berbagai sektor. Di balik desakan regulasi kesehatan yang menginginkan perubahan cepat di sisi konsumsi, terdapat realitas agronomis yang sangat kontras di sektor hulu pertanian. Kementerian Pertanian mengingatkan bahwa menciptakan varietas tembakau lokal dengan kadar nikotin rendah bukanlah perkara instan. Para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama kementerian membutuhkan waktu setidaknya 30 tahun untuk melakukan riset mendalam agar menghasilkan benih unggul yang tetap adaptif di lahan tropis Indonesia.
Proses perumusan regulasi ini dinilai kurang melibatkan Kementerian Pertanian secara menyeluruh. Hal tersebut dikarenakan rancangan aturan yang sedang digodok bersandar pada mandat Undang-Undang Kesehatan yang mengatur aspek hilir atau konsumsi, bukan pada regulasi yang mengatur sektor hulu pertanian. Walau ruang keterlibatannya terbatas, Kementerian Pertanian tetap aktif menyuplai data-data komoditas tembakau yang komprehensif agar kebijakan yang dilahirkan nantinya tidak meleset dari fakta di lapangan.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Menurunkan kadar nikotin pada tanaman tembakau melalui metode persilangan tradisional non-GMO menuntut proses seleksi genetik yang sangat panjang. Mengingat setiap generasi tanaman membutuhkan waktu satu musim tanam penuh, peneliti harus melewati puluhan generasi persilangan untuk menstabilkan sifat rendah nikotin tanpa merusak daya tahan tanaman terhadap hama lokal. Karakteristik alamiah tanah vulkanik dan paparan sinar matahari tropis di Indonesia membuat tembakau lokal seperti Kemloko di Temanggung atau Mole di Jawa Barat secara alami memiliki kadar nikotin tinggi, berkisar antara 3 persen hingga 8 persen.
Tanpa adanya masa transisi yang cukup panjang, industri tembakau lokal diproyeksikan akan kolaps sebelum benih hasil riset siap ditanam secara massal. Selain masalah kesiapan benih, dampak ekonomi terhadap petani juga menjadi taruhan besar. Jika regulasi ini memaksa terjadinya penyusutan lahan tembakau, negara memerlukan waktu sekitar 25 hingga 30 tahun untuk mengedukasi dan mengalihkan jutaan petani ke komoditas pengganti yang memiliki nilai ekonomi serupa. Petani tentu akan bersikap pragmatis dan hanya mau menanam varietas baru jika nilai ekonominya setara dengan tembakau konvensional.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Secara ilmiah, menurunkan kadar nikotin hingga di bawah 1 persen untuk mencapai emisi asap rokok di bawah 1 miligram dapat ditempuh melalui tiga jalur utama. Jalur pertama adalah pemuliaan persilangan konvensional dengan mengawinkan varietas lokal unggul dan varietas luar negeri berkadar nikotin rendah. Jalur kedua menggunakan teknologi modern berupa penyuntingan gen CRISPR untuk menonaktifkan enzim pembuat nikotin di bagian akar sebelum dialirkan ke daun. Jalur ketiga adalah modifikasi teknik agronomi, seperti mengurangi pupuk nitrogen dan mengubah sistem pengairan tradisional. Kendati demikian, belum ada jaminan mutlak bahwa varietas baru ini dapat tumbuh seragam di seluruh wilayah Indonesia karena adanya faktor terroir atau kecocokan iklim mikro setempat.






