Kementerian Keuangan (Kemenkeu) secara aktif mendorong pasar modal untuk menopang sebagian besar kebutuhan investasi nasional pada tahun 2027. Secara spesifik, Kemenkeu meminta pasar modal untuk mampu membiayai hingga 91 persen dari total kebutuhan investasi Indonesia pada tahun tersebut. Langkah strategis ini diambil karena keterbatasan anggaran negara yang membuat pemerintah harus mencari alternatif pembiayaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) demi menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menjelaskan bahwa APBN saja tidak akan pernah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan kita yang sangat besar. Berbagai program pembangunan prioritas memerlukan dana yang masif, mulai dari sektor infrastruktur, kebutuhan energi, sektor pendidikan yang saat ini sedang digalakkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga program hilirisasi industri. Oleh karena itu, ketergantungan pada anggaran negara harus diminimalkan dengan cara memaksimalkan potensi pembiayaan dari sektor-sektor lain, khususnya pasar modal dan investasi swasta.
Dalam perhitungan estimasi untuk APBN 2027, total kebutuhan investasi di Indonesia diperkirakan akan mencapai angka Rp8.705 triliun. Dari keseluruhan total kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, kemampuan APBN tercatat hanya sanggup mencakup sekitar Rp459 triliun, atau hanya berkisar 5 persen dari total kebutuhan investasi nasional. Di sisi lain, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk di dalamnya Danantara, diharapkan dapat ikut berkontribusi untuk menutupi kebutuhan pembiayaan investasi tersebut dengan porsi sebesar Rp330 triliun.
Restrukturisasi Red Lobster dan Alih Fungsi Bekas Gerainya di Florida

Dengan porsi dari APBN dan BUMN yang terbatas, maka target pembiayaan dari sektor swasta menjadi kunci utama pembangunan dengan nilai mencapai Rp7.973 triliun, atau setara dengan 91 persen dari total kebutuhan investasi nasional. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam acara Peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia yang diselenggarakan bersamaan dengan peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) Emas. Acara penting bagi pelaku industri keuangan ini berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, pada hari Senin (10/8).
Dalam rangka mencapai target pembiayaan swasta yang sangat besar tersebut, pemerintah Indonesia terus berupaya memperluas basis investor domestik serta melakukan diversifikasi instrumen di pasar keuangan. Salah satu bentuk nyata dari upaya diversifikasi instrumen ini adalah dengan diluncurkannya produk ETF Emas. Dalam kesempatan tersebut, Juda Agung juga menegaskan bahwa kepercayaan atau trust merupakan faktor yang paling fundamental dan krusial di dalam pasar keuangan. Tanpa adanya kepercayaan dari para investor dan pelaku pasar, upaya untuk memperdalam pasar keuangan tidak akan berjalan secara optimal.
Pemerintah Dorong Teknologi Pirolisis untuk Percepat Pengelolaan Sampah Nasional

Guna membangun pasar keuangan yang kuat dan kredibel, pemerintah berkomitmen untuk terus menjalin sinergi dan kolaborasi erat dengan berbagai otoritas serta pemangku kepentingan. Pemerintah akan terus bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) sebagai SRO, para pelaku pasar modal, serta seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif di Indonesia sehingga pasar modal dapat benar-benar menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan nasional pada tahun 2027 mendatang.






