Kekeringan yang melanda Kabupaten Gunungkidul kembali memaksa warga untuk melakukan berbagai upaya demi bertahan hidup. Di Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, sejumlah warga terpaksa menjual hewan ternak mereka, khususnya ayam, agar bisa membeli air bersih. Kondisi krisis air akibat kemarau ini dilaporkan telah dirasakan oleh warga setempat sejak bulan April 2026 lalu, tepat ketika musim penghujan berakhir di wilayah tersebut.
Bagi warga Dusun Kemesu, air bersih kini menjadi barang mewah yang harus ditebus dengan harga cukup mahal. Selama ini, warga sebenarnya memiliki tandon penyimpanan air hujan pribadi. Namun, tandon tersebut hanya mampu mencukupi kebutuhan air keluarga selama kurang lebih satu bulan setelah hujan berhenti. Sementara itu, layanan air bersih dari PDAM yang tersedia di tiga titik di dusun tersebut juga sangat terbatas karena aliran airnya hanya mengalir sekali dalam sepekan. Akibatnya, warga tidak memiliki pilihan lain selain membeli air tangki secara mandiri.
Satu tangki air bersih di kawasan ini dijual dengan harga Rp 120.000. Pasokan air dari satu tangki tersebut biasanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga selama dua pekan. Air yang dibeli secara mandiri ini digunakan warga untuk berbagai keperluan sehari-hari yang sangat mendasar, mulai dari mandi, mencuci pakaian, memasak, hingga memberikan air minum untuk hewan ternak mereka. Mengingat sebagian besar penduduk di dusun ini bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, kebutuhan air untuk hewan ternak juga menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan.
KPK Geledah Rektorat Unsoed dan Rumah Tersangka, Sita Bukti Pengkondisian Mahasiswa Baru

Demi memenuhi kebutuhan air tersebut, warga terpaksa memutar otak dengan menjual aset yang mereka miliki. Salah seorang warga Dusun Kemesu bernama Sutopo menceritakan pengalamannya yang terpaksa menjual dua ekor ayam miliknya pada tahun ini demi bisa membeli air bersih. Ayam kampung tersebut laku terjual dengan harga berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per ekor. Selain menjual ayam, Sutopo yang bekerja di bidang kebersihan juga harus merelakan sebagian dari gaji bulannnya untuk dialokasikan khusus membeli pasokan air bersih.
Warga cenderung memilih menjual ayam kampung karena bernilai lebih rendah dibandingkan ternak lain. Hewan ternak yang memiliki nilai jual tinggi, seperti kambing dan sapi, tetap dipertahankan oleh warga setempat. Mereka menganggap ternak besar tersebut sebagai tabungan jangka panjang yang hanya akan dijual untuk kebutuhan yang jauh lebih mendesak. Kondisi sulit ini rupanya bukan hal baru bagi warga Dusun Kemesu. Krisis air bersih setiap kali musim kemarau tiba sudah mereka hadapi sejak tahun 2012. Terlebih lagi, secara geografis kawasan Kemesu memang tidak memiliki aliran sungai maupun sumber air tanah karena terletak di daerah karst yang sangat minim air permukaan. Karena sulitnya mencari nafkah di tanah kelahiran, banyak pemuda dari dusun ini memilih untuk merantau ke kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Solo.
Penasihat LBM NU DKI Minta NU Mandiri Secara Ekonomi, Agar Tak Mudah Terkooptasi

Dusun Kemesu sendiri saat ini dihuni oleh setidaknya 68 kepala keluarga dengan total warga yang terdampak kekeringan mencapai 239 jiwa. Untuk meringankan beban masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul telah menyalurkan bantuan air bersih. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan pengiriman air bersih sebanyak dua kali ke Pedukuhan Kemesu. Pengiriman pertama dilakukan pada hari Rabu (24/6), disusul pengiriman kedua pada hari Rabu (1/7). Pada pengiriman kedua tersebut, BPBD Gunungkidul menyalurkan bantuan sebanyak 40.000 liter air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan ratusan warga yang terdampak di wilayah rawan kekeringan tersebut.






