Pasar saham Wall Street menutup pekan dengan dinamika yang tidak biasa, di mana euforia kecerdasan buatan (AI) yang selama ini mendongkrak bursa kini mulai berubah menjadi kecemasan. Para pemodal tampak mulai menahan diri dan melepas kepemilikan saham pada sektor semikonduktor karena khawatir terhadap besarnya anggaran belanja yang digelontorkan raksasa teknologi demi membiayai infrastruktur AI. Tekanan jual pada sektor teknologi ini menyeret indeks Nasdaq ke zona merah, sementara indeks S&P 500 hanya mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan yang sangat tipis.
Kekhawatiran ini mencuat menjelang rilis laporan keuangan kuartalan dari para raksasa teknologi dunia seperti Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple. Skeptisisme pasar kian menebal setelah Alphabet sebelumnya mengumumkan lonjakan belanja modal yang signifikan, memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar mengenai kapan investasi masif tersebut akan mendatangkan keuntungan nyata. Menurut pengamatan analis dari Andersen Capital Management, Peter Andersen, kecemasan pelaku pasar kini bergeser dari rasa takut tertinggal tren (FOMO) menjadi ketakutan terhadap potensi kelebihan kapasitas infrastruktur yang dibangun secara besar-besaran tanpa hasil instan.
Sentimen negatif ini paling terasa pada saham-saham produsen cip. Saham Intel, misalnya, merosot hingga 7,9 persen setelah perseroan memproyeksikan kenaikan belanja modal untuk dua tahun ke depan, meskipun estimasi laba dan pendapatannya melampaui ekspektasi. Kejatuhan Intel ini turut menyeret indeks semikonduktor Philadelphia turun sebesar 4,5 persen. Secara sektoral, kelompok saham teknologi dalam S&P 500 terkoreksi sebesar 0,88 persen, menjadi beban utama yang menahan laju indeks acuan tersebut.
Indonesia Optimistis Pertahankan Posisi Emerging Market Lewat Reformasi Bursa

Di tengah lesunya sektor teknologi, sektor-sektor konvensional justru tampil sebagai penyelamat pasar dari kejatuhan yang lebih dalam. Sektor real estat memimpin penguatan dengan kenaikan 2,4 persen, didorong oleh lonjakan saham Digital Realty Trust sebesar 11 persen setelah merevisi proyeksi kinerja tahunannya ke arah yang lebih positif. Sektor material menyusul di posisi kedua dengan kenaikan 1,44 persen berkat penguatan saham produsen kertas International Paper dan Smurfit Westrock yang masing-masing melonjak di atas 11 persen. Selain itu, saham penyedia jasa ladang minyak SLB juga naik 11 persen berkat capaian laba kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar.
Faktor eksternal seperti penurunan harga minyak mentah sekitar 3 persen turut memberikan ruang napas bagi bursa saham, di tengah upaya Tiongkok mendorong dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun demikian, ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap membayangi setelah militer AS meluncurkan rudal ke target-target di Iran sebagai respons atas ancaman Presiden Donald Trump. Di sisi domestik, data ekonomi menunjukkan pertumbuhan sektor jasa AS pada bulan Juli tetap solid berkat momentum Piala Dunia FIFA dan libur Hari Kemerdekaan, meskipun aktivitas manufaktur melambat ke titik terendah sejak Maret. Kebijakan tarif baru sebesar 10 hingga 12,5 persen yang mulai diterapkan pemerintahan Trump terhadap puluhan mitra dagang juga menjadi faktor yang terus dipantau investor.
Kolaborasi Warga Karawang dan BRI Tanam Puluhan Ribu Mangrove demi Cegah Abrasi

Pada akhir perdagangan Jumat, indeks Dow Jones Industrial Average berhasil naik 235,60 poin atau 0,46 persen ke level 51.947,25. Sebaliknya, Nasdaq Composite terpangkas 161,87 poin atau 0,64 persen menjadi 24.975,82, sedangkan S&P 500 naik tipis 3,68 poin atau 0,05 persen ke posisi 7.411,98. Secara akumulatif dalam sepekan, ketiga indeks utama mencatatkan rapor merah dengan Nasdaq memimpin penurunan sebesar 2 persen, diikuti S&P 500 yang melemah 0,6 persen, dan Dow Jones yang terkoreksi 0,4 persen.






