Kasus Flu Burung pada Manusia di Amerika Serikat Mencapai 70, Risiko Mutasi Dipantau

Agus CahyonoPublished 26 Jul 2026 - 15.50 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Kasus Flu Burung pada Manusia di Amerika Serikat Mencapai 70, Risiko Mutasi Dipantau
Ilustrasi: Keith Evans, CC BY-SA 2.0 via Wikimedia Commons.
A-A+

Amerika Serikat mencatat peningkatan signifikan kasus flu burung H5N1 pada manusia. Hingga awal Maret 2025, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengonfirmasi total 70 orang terinfeksi virus avian influenza A(H5N1) sejak awal wabah terdeteksi pada 2022. Sebagian besar kasus baru terjadi dalam 12 bulan terakhir, menyusul meluasnya virus ke peternakan sapi perah dan unggas komersial di berbagai negara bagian. Satu kematian dilaporkan di Louisiana pada Januari 2025, menandai korban jiwa pertama akibat H5N1 di negara itu dan meningkatkan tingkat kewaspadaan otoritas kesehatan masyarakat. Meski penularan dari manusia ke manusia belum terbukti, setiap infeksi baru menjadi peluang bagi virus untuk beradaptasi dan berpotensi meningkatkan sifat menularnya pada populasi manusia.

Distribusi kasus manusia ini sangat dipengaruhi oleh sumber paparan. Dari 70 kasus terkonfirmasi, 41 di antaranya terkait dengan kontak langsung dengan sapi perah yang terinfeksi, terutama di kalangan pekerja peternakan di negara bagian seperti California, Colorado, dan Texas. Sebanyak 24 kasus lain berasal dari paparan unggas—baik di peternakan komersial, pekarangan rumah, maupun melalui pemusnahan unggas sakit—serta dua kasus tanpa sumber paparan yang jelas. Secara geografis, infeksi telah dilaporkan di 13 negara bagian, dengan keragaman gejala mulai dari konjungtivitis ringan dan gejala pernapasan atas hingga pneumonia berat. Pada kasus fatal di Louisiana, pasien berusia lanjut dengan penyakit penyerta terpapar dari kawanan unggas peliharaan dan burung liar di halaman rumahnya. Investigasi epidemiologi tidak menemukan bukti transmisi sekunder ke orang lain di sekitar pasien.

Also Read

Melampaui Seratus Persen, Babak Baru Layanan Kesehatan dari Kota Malang

Dampak kesehatan masyarakat terpusat pada kelompok berisiko tinggi, terutama pekerja di sektor peternakan dan kesehatan hewan. CDC menilai risiko bagi populasi umum masih rendah, namun merekomendasikan pemakaian alat pelindung diri (APD) dan pemantauan ketat pada siapa pun yang kontak dengan hewan sakit atau mati mendadak. Kekhawatiran utama para virolog adalah kemungkinan mutasi genetik yang memungkinkan virus menyebar efisien melalui droplet antarmanusia. Sejumlah studi laboratorium menunjukkan virus H5N1 dari sapi perah memiliki reseptor yang mulai kompatibel dengan saluran pernapasan mamalia. Meski belum ada sinyal adaptasi menyeluruh, rumah sakit dan klinik di daerah endemis unggas telah memperkuat kapasitas uji flu burung, serta stok obat antivirus seperti oseltamivir dipastikan memadai sebagai langkah antisipasi.

Dari sisi ekonomi dan kebijakan, wabah ini telah menekan industri unggas dan susu AS. Jutaan unggas dimusnahkan untuk mengendalikan penyebaran, memicu kenaikan harga telur dan daging ayam di pasar domestik. Di sektor sapi perah, penularan H5N1 menyebabkan penurunan produksi susu dan trade-off biaya keamanan hayati yang lebih tinggi. Pemerintah federal merespons dengan mengucurkan dana darurat ratusan juta dolar bagi pengawasan, pengujian massal pada sapi perah, dan pengembangan kandidat vaksin berbasis mRNA untuk flu burung. Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) juga memperketat pengujian susu pasteurisasi dan produk olahannya demi memastikan keamanan pangan, meskipun bukti menunjukkan proses pasteurisasi efektif membunuh virus. Sejumlah negara bagian memberlakukan pembatasan sementara pada pasar unggas hidup dan mewajibkan pelaporan kesehatan hewan secara real-time.

Also Read

Dokter Datang ke Rumah, Warga Miskin Jember Kini Punya Layanan Kesehatan Tanpa Batas Jarak

Dalam konteks global, lonjakan kasus manusia di AS memperkuat seruan pendekatan “Satu Kesehatan” yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) terus memantau situasi, mengingat potensi H5N1 menjadi pemicu pandemi berikutnya bila berhasil bermutasi menjadi strain yang menular antarmanusia secara berkelanjutan. AS berbagi data sekuens genetik secara terbuka melalui pangkalan data internasional untuk mempercepat pengembangan vaksin dan alat diagnostik. Para ahli menekankan bahwa pemutusan rantai penularan pada hewan—melalui vaksinasi unggas dan biosekuriti ketat—merupakan strategi kunci mencegah meluasnya ancaman ini, sementara masyarakat diimbau tetap tenang dan menghindari kontak langsung dengan hewan liar yang tampak sakit.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca