Di tengah gelombang kekhawatiran dan ancaman hengkang para konglomerat, suara paling tenang justru muncul dari pemilik salah satu kekayaan terbesar di planet ini. CEO Nvidia, Jensen Huang, merespons wacana pajak kekayaan ekstrem di California dengan sikap yang jauh dari kesan panik: ia mengaku tidak keberatan menyerahkan porsi besar hartanya kepada negara. Ketika usulan pungutan satu kali sebesar 5 persen bagi aset bersih di atas 1,1 miliar dolar AS bergulir, pria yang kekayaannya menembus 155 miliar dolar AS itu justru berkata, “Saya bahkan tidak pernah memikirkannya.”
Sikap santai Huang bukan karena ia tak memahami dampaknya. Jika kelak inisiatif ini lolos pemungutan suara November 2026, ia akan menghadapi tagihan sekitar 7,75 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp129 triliun, jumlah yang hanya bisa dipenuhi dengan mencairkan sebagian kepemilikan saham Nvidia-nya. Namun dalam wawancara dengan Bloomberg TV, ia menegaskan bahwa domisili keluarganya di Lembah Silikon adalah pilihan sadar. “Berapa pun pajak yang ingin diterapkan, tidak masalah bagi saya,” ujarnya, seakan menutup ruang bagi drama yang biasa mewarnai percakapan para hartawan.
UMKM Menagih Janji di Balik Ratifikasi Empat Pakta Dagang

Usulan yang kini dikenal sebagai ‘one‑time wealth tax’ itu memang dirancang untuk menyasar sekitar 200 warga terkaya di negara bagian tersebut. Dirintis oleh serikat pekerja sektor kesehatan dan didukung sejumlah legislator progresif termasuk Senator Bernie Sanders, inisiatif ini membutuhkan lebih dari 870.000 tanda tangan agar bisa masuk dalam surat suara. Jika berhasil, pajak 5 persen akan dikenakan atas seluruh aset bernilai ekonomis—mulai dari saham, obligasi, hingga kepemilikan bisnis—terlepas dari apakah sang miliarder pindah ke luar California setelah awal 2026. Properti rumah tinggal dikecualikan, dan pembayaran dapat dicicil hingga lima tahun. Potensi penerimaannya diperkirakan mencapai 100 miliar dolar AS yang dialokasikan untuk menutup defisit anggaran kesehatan, membiayai pendidikan publik, dan program bantuan pangan.
Reaksi sebagian besar miliarder lain berdiri di kutub yang berseberangan. Palmer Luckey, pendiri perusahaan pertahanan Anduril, memperingatkan bahwa pungutan semacam itu akan memaksa para pendiri menjual porsi besar perusahaan mereka demi memenuhi kewajiban likuiditas. “Saya dan rekan pendiri harus mencari uang tunai miliaran dolar,” tulisnya di platform X. Nada serupa disuarakan pemodal ventura Vinod Khosla yang menyebut pajak itu akan meyakinkan para hartawan untuk hengkang. Kabar yang beredar bahkan menyebut Larry Page dan Peter Thiel ikut mempertimbangkan pindah sebelum akhir 2025. Kendati demikian, para pendukung inisiatif justru merujuk pada sejumlah studi yang menyanggah anggapan bahwa kenaikan pajak otomatis memicu eksodus besar-besaran kalangan kaya dan usahanya.
Gawai di Tangan, Layanan Pensiun di Ujung Jari, TASPEN Perkuat Benteng Digital Tangkal Penipuan

Ketenangan Huang bisa jadi berakar dari perspektif yang berbeda. Ia memilih menetap di kawasan yang membesarkan Nvidia hingga menjadi raksasa semikonduktor bernilai lebih dari 4,6 triliun dolar AS berkat ledakan permintaan cip kecerdasan buatan. Bagi seseorang yang kekayaannya melejit bersama revolusi AI, kewajiban fiskal barangkali tampak sebagai ongkos wajar untuk infrastruktur sosial yang turut membentuk ekosistem inovasinya. Ketika banyak taipan bersiap menyusun strategi perlindungan aset, Huang justru menawarkan narasi langka: bahwa domisili bukan sekadar alamat surat, melainkan komitmen untuk ikut menanggung beban komunitas yang telah memberinya panggung dunia.






