Jalur Perang Minyak, Harga Fluktuatif di Antara Rudal dan Selat Hormuz

Parlin SinagaPublished 26 Jul 2026 - 21.20 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Jalur Perang Minyak, Harga Fluktuatif di Antara Rudal dan Selat Hormuz
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Di tengah memanasnya bara geopolitik, jalur air strategis dunia kembali menjadi saksi bisu pertarungan kekuatan besar. Selat Hormuz, yang biasanya riuh oleh lalu lintas kapal tanker raksasa, mendadak sunyi. Foto dari Musandam, Oman, memperlihatkan pemandangan kontras: burung-burung beterbangan bebas di atas perahu kecil, sementara di kejauhan, kapal-kapal pengangkut emas hitam memilih menepi, enggan melintasi perairan yang kini dibayangi ancaman perang. Keheningan ini bukan pertanda damai, melainkan alarm bagi pasar energi global, yang langsung direspons oleh naik-turunnya harga minyak mentah secara tajam sepanjang pekan.

Pasar menutup minggu dengan sinyal beragam. Pada Jumat (24/7), kontrak berjangka Brent anjlok 3,88 persen ke level USD 96,78 per barel, merosot dari posisi sebelumnya yang sempat bertengger di atas USD 100 untuk pertama kalinya sejak Mei. West Texas Intermediate (WTI) mengikuti jejak pelemahan sebesar 3,12 persen menjadi USD 89,31 per barel. Penurunan harian ini seolah mencoba meredam kecemasan, namun tak mampu menyembunyikan lompatan mingguan yang mencolok: Brent menanjak hampir 10 persen dan WTI mendaki 8,27 persen. Fluktuasi liar ini adalah cermin dari ketidakpastian yang dipicu oleh hujan rudal antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah aksi kelompok Houthi di Yaman yang menyasar kapal-kapal di Laut Merah.

Also Read

Saat Tembok Dagang Berdiri di Antara Dua Sahabat Lama

Ketika pasokan dari Timur Tengah dihantui gangguan, para importir besar langsung menghitung ulang rute pengadaan. China, sebagai konsumen energi utama, menunjukkan refleks khasnya: mempercepat penyerapan minyak mentah ESPO dari Rusia. Seluruh kargo pengiriman Agustus dari Terminal Kozmino di pesisir Pasifik ludes diserap, bahkan beberapa lot untuk pengiriman September sudah berganti kepemilikan. Para pedagang menyebut kecepatan transaksi ini jauh melampaui pola normal. Hasilnya, harga minyak ringan berkadar sulfur rendah itu ikut terdorong naik. Meskipun karakteristiknya tak sepenuhnya identik dengan minyak khas Timur Tengah, ESPO tetap menjadi primadona kilang-kilang China karena banderol yang lebih bersahabat dan kemampuannya menghasilkan solar dalam jumlah lebih besar. Volume impor dari Rusia sepanjang Juli yang mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari menjadi bukti betapa rute pengadaan kini berbelok drastis.

Di balik riak spekulatif ini, pemerintah Indonesia memilih bersikap tenang. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa meski harga sempat menyentuh kembali level USD 100 per barel, postur APBN tetap aman. Asumsi dasar penyusunan anggaran, termasuk untuk paket stimulus semester kedua, memang sudah dipagari menggunakan patokan harga minyak di level tersebut. Dengan demikian, gejolak yang terjadi bukanlah situasi baru yang bisa meruntuhkan perencanaan fiskal. Hanya saja, ruang gerak untuk menambah alokasi ke kementerian, lembaga, atau pemerintah daerah dipastikan tidak akan selebar sebelumnya. “Ini bukan keadaan baru, jadi pemerintah bisa kembali menyesuaikan anggaran,” demikian inti pernyataan dari bendahara negara, menandaskan bahwa kebijakan fiskal dirancang dengan bantalan yang cukup untuk menyerap guncangan dari medan perang di belahan dunia lain.

Also Read

Senja di Hunian IKN, Sang Pengabdi Berpulang Dalam Sepi

Minyak kembali mengalir mengikuti peta konflik. Jalur Hormuz yang lengang dan Laut Merah yang memanas telah membuktikan diri sebagai barometer ketakutan global. Di satu sisi, lonjakan harga menguntungkan produsen, di sisi lain menekan importir. Namun di tengah pusaran itu, strategi diversifikasi pasokan dan ketahanan anggaran menjadi tameng yang sesungguhnya. Pekan ini menegaskan bahwa komoditas strategis itu tidak hanya bergerak berdasarkan neraca permintaan-penawaran, melainkan juga oleh setiap peluru yang meluncur dan setiap kapal yang berhenti melaju.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca