Jalan Terjal di Balik Manisnya Durian Cawang Kidau

Andi TobanPublished 26 Jul 2026 - 16.350 Reads
Bagikan WhatsAppX
Jalan Terjal di Balik Manisnya Durian Cawang Kidau
Foto/Ilustrasi: news.republika.co.id.
A-A+

Di balik harum dan manisnya durian premium yang mengalir dari Cawang Kidau, tersimpan kisah tentang ruas jalan yang tak kunjung ramah. Kawasan di Desa Manau IX, Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur ini menyimpan hamparan kebun yang menjanjikan; durian lokal dan kelapa sawit tumbuh subur, menjadi nadi ekonomi warga. Namun kemurahan alam itu seolah berjalan seorang diri, tanpa diiringi kemurahan akses. Ratusan ton durian yang dipanen tiap musim dan ratusan ton tandan buah segar sawit yang dikirim setiap bulan, masih harus menempuh rute yang menguji kesabaran.

Setiap kali musim panen tiba, pemandangan di Cawang Kidau nyaris seragam: sepeda motor hilir mudik mengangkut durian dalam jumlah terbatas. Cara ini bukan pilihan, melainkan keterpaksaan akibat badan jalan yang belum layak dilewati kendaraan roda empat secara leluasa. Satu-satunya penyeberangan yang menghubungkan area perkebunan dengan dunia luar adalah sebuah jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Air Padang Guci. Struktur itu boleh jadi cukup untuk pejalan kaki atau kendaraan roda dua, tetapi jelas bukan jawaban bagi kebutuhan distribusi hasil bumi dalam skala besar.

Also Read

Peringatan Tegas Menkeu, 2026 Jadi Masa Tenang Terakhir sebelum Pajak Aset Dilacak

Kondisi kontradiktif itu mencuat dalam penegasan Bupati Kaur, Gusril Pausi. Ia melihat Cawang Kidau bukan sekadar desa dengan kebun produktif, melainkan lumbung ekonomi yang potensinya masih tertahan oleh keterbatasan infrastruktur. Bahkan kendaraan berpenggerak empat roda dan truk yang biasanya tangguh di medan berat pun hanya bisa melintas dalam situasi tertentu. Ketika debit sungai naik, aktivitas pengangkutan nyaris lumpuh total. Alhasil, rantai pasok durian dan sawit dari sentra ini mudah terputus, menciptakan ketidakpastian yang merugikan petani di tingkat hilir.

Menyadari bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tidak akan cukup untuk menambal lubang infrastruktur sebesar ini, Gusril melemparkan ajakan sinergi ke berbagai penjuru. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu, para wakil rakyat di DPR RI, hingga anggota DPD RI asal daerah itu disebutnya sebagai kunci percepatan. Di tengah era efisiensi anggaran yang membayangi banyak rencana pembangunan daerah, upaya bersama ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak agar potensi senilai miliaran rupiah di Cawang Kidau tidak terus-menerus tergerus oleh isolasi geografis.

Also Read

Dari Tambang untuk Bumi, Gerak Hijau 2026 Membuktikan Kolaborasi Bukan Sekadar Wacana

Padang Guci Hulu sejatinya sudah membuktikan diri sebagai salah satu kantong durian unggulan di Provinsi Bengkulu. Keberhasilan budidaya durian premium di wilayah ini adalah modal yang terlalu mahal untuk diabaikan. Begitu pula dengan perkebunan kelapa sawit yang telah menjadi penopang utama perekonomian warga setempat. Jika akses jalan dan jembatan yang memadai bisa segera dihadirkan, bukan tidak mungkin Cawang Kidau akan menjelma menjadi model kebangkitan ekonomi pedesaan berbasis komoditas unggulan, di mana kualitas panen tidak lagi harus berkompromi dengan kondisi jalan yang terlampau terjal.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca