Jalan Panjang Teknisi Muda dari Bangku SMK Menuju Podium AHM Technical Skill Contest

Usat NgajiPublished 26 Jul 2026 - 03.07 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Jalan Panjang Teknisi Muda dari Bangku SMK Menuju Podium AHM Technical Skill Contest
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Bagi sebagian besar pemilik sepeda motor, bengkel resmi adalah tempat persinggahan yang hanya dikenang saat kendaraan bermasalah. Namun di balik meja servis dan rak perkakas, ribuan teknisi menjalani perjalanan panjang agar seutas kabel, celah busi, atau deru mesin bisa mereka baca seteliti seorang dokter mendiagnosis pasien. Di titik itulah kontes seperti AHM Technical Skill Contest atau AHM TSC menemukan urgensinya, bukan sekadar panggung adu cepat, melainkan penanda seberapa serius sebuah merek merawat kepercayaan pelanggan di seluruh pelosok negeri.

Tahun ini, PT Astra Honda Motor menghadirkan kembali kontes tersebut dengan gaung yang lebih besar: 9.700 teknisi dan 2.500 service advisor berpartisipasi, berasal dari sekitar 3.657 jaringan AHASS yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Proses penjaringan berlangsung berlapis sejak awal 2026. Setiap peserta mesti melewati seleksi di tingkat kabupaten atau kota, lalu bertarung di tingkat provinsi, sebelum akhirnya 69 nama terpilih melaju ke babak final nasional di Cikarang. Jalur yang panjang itu menjadi tapis alami untuk memisahkan antara teknisi yang sekadar terampil dan mereka yang benar-benar tangguh di bawah tekanan.

Di atas panggung final, tidak semua diuji dengan cara yang sama. Kontes membagi peserta ke dalam tiga kategori: teknisi pit reguler, service advisor, dan teknisi big bike. Masing-masing menjalani tes teori yang mengupas sistem injeksi atau rangkaian kelistrikan mutakhir, dilanjutkan praktik langsung dan troubleshooting. Sementara itu, para service advisor menghadapi studi kasus dan role play – sebuah simulasi yang menempatkan mereka pada situasi pelanggan marah, kebingungan, atau butuh solusi cepat. Akurasi, efisiensi, keselamatan kerja, dan cara menyampaikan informasi menjadi ukuran yang tak bisa ditawar.

Also Read

Mengapa Trader Kripto Lebih Sering Nyangkut? Ini Akar Psikologisnya

Di tengah kerasnya persaingan, sorot utama justru jatuh pada seorang teknisi pit reguler bernama Randy Dwiki Saputra. Namanya mungkin sebelumnya belum banyak dikenal, tetapi jejaknya menandakan benang merah yang kuat antara pendidikan vokasi dan industri. Randy merupakan lulusan SMKN 1 Badegan Ponorogo, sekolah yang tercatat sebagai binaan AHM. Sejak masih berseragam abu-abu, ia sudah akrab dengan ritme kompetisi. Begitu lulus pada 2022, ia segera bergabung dengan AHASS Ponorogo dan mulai meniti karier sebagai mekanik profesional. Namun, podium juara tidak turun begitu saja. Beberapa kali Randy tersandung di edisi-edisi sebelumnya, gagal membawa pulang gelar. Kegagalan itu justru menjadi guru paling jujur, mendorongnya merancang persiapan yang lebih matang dan membaca ulang setiap celah kekurangan.

General Manager Technical Service Division AHM, V.H. Kunsala Krishna, menegaskan bahwa kontes ini didesain untuk menjawab tantangan zaman. “Melalui AHM TSC kami ingin terus melahirkan teknisi Honda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki standar kompetensi yang tinggi, dan selalu mengutamakan kepuasan konsumen,” ujarnya dalam kesempatan tersebut. Kalimat itu bukan sekadar seremoni; kendaraan masa kini bermigrasi cepat ke era konektivitas dan elektrifikasi, sehingga bengkel resmi perlu lebih dari sekadar tangan dingin. Mereka butuh logika digital, ketangkasan analitis, dan empati saat menerjemahkan keluhan konsumen ke dalam langkah perbaikan.

Also Read

Teddy Indra Wijaya Buka Kalender Acara Indonesia 2026, Ajak Masyarakat Jelajah Negeri

Kini, para juara AHM TSC 2026 akan memikul bendera lebih besar lagi. Krishna berharap mereka bisa membawa kemampuan teknisi Indonesia bersaing di Asia Oceania Technical Skill Contest 2026. Bagi teknisi seperti Randy, itu berarti melangkah dari kemenangan lokal menuju panggung yang mempertemukan mekanik-mekanik terbaik kawasan. Lebih jauh, ajang ini juga menjadi cermin bagi ribuan lulusan sekolah menengah kejuruan yang sering dipandang sebelah mata. Kisah Randy menunjukkan bahwa bangku SMK bisa menjadi landasan kokoh selama ada ekosistem yang membina, dan bahwa kegagalan bukanlah kartu merah, melainkan bagian dari rencana belajar yang lebih panjang.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca