Ironi Industri Garmen Jawa Tengah di Tengah Gelombang PHK Massal

Uria Anyi ApuiPublished 27 Jul 2026 - 10.150 Reads
Bagikan WhatsAppX
Ironi Industri Garmen Jawa Tengah di Tengah Gelombang PHK Massal
Foto/Ilustrasi: ekonomi.republika.co.id.
A-A+

Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai magnet baru bagi industri padat karya berkat upah minimumnya yang kompetitif. Namun, kabar mengejutkan datang ketika lebih dari 1.400 pekerja harus kehilangan mata pencaharian akibat tumbangnya dua pabrik garmen besar di Semarang dan Jepara. Fenomena ini memicu tanda tanya besar mengenai daya tahan industri tekstil di wilayah tersebut di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif.

Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, memberikan pandangannya terkait situasi ini. Ia menjelaskan bahwa PT Victory Apparel Semarang dan PT Samwon Busana Indonesia Jepara, dua perusahaan yang baru saja dinyatakan pailit tersebut, bukan merupakan bagian dari keanggotaan AGTI. Hal ini membuat asosiasi tidak memiliki data internal mengenai penyebab pasti di balik kebangkrutan kedua entitas bisnis tersebut.

Meski demikian, Anne memaparkan sejumlah faktor klasik yang kerap menjegal kelangsungan hidup produsen garmen. Salah satu pemicu utama adalah masalah likuiditas yang bersumber dari kegagalan bayar oleh pihak pembeli (buyer). Pola ini marak terjadi sejak era pandemi Covid-19, di mana banyak merek ritel global mengalami kebangkrutan dan meninggalkan utang yang tak terbayar kepada pabrik-pabrik pemasok di negara berkembang seperti Indonesia.

Also Read

Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga Bawang Putih hingga Indonesia Timur

Secara makro, industri garmen di Jawa Tengah sebenarnya memiliki keunggulan komparatif yang cukup kuat dibandingkan wilayah lain di Pulau Jawa. Standar upah minimum di provinsi ini dinilai masih sangat kompetitif jika disandingkan dengan daerah industri lain seperti Bandung di Jawa Barat, atau kawasan Tangerang di Banten. Keunggulan biaya tenaga kerja inilah yang seharusnya membuat pabrik-pabrik di Jawa Tengah memiliki daya saing lebih tinggi untuk bertahan.

Kondisi ini terbukti dari kinerja sekitar 30 anggota AGTI di Jawa Tengah yang berorientasi ekspor. Kelompok ini justru mencatatkan pertumbuhan penjualan yang positif karena berhasil mengamankan kontrak dengan merek-merek global. Kendati demikian, situasi kontras dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bawah naungan AGTI. Setelah menikmati angin segar pada kuartal pertama tahun 2026 berkat momentum Lebaran, para pelaku UMKM mulai mengeluhkan penurunan kinerja pada kuartal kedua.

Also Read

Eskalasi Geopolitik Global Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Tantangan pada kuartal kedua tahun 2026 memang semakin berat akibat kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh ketegangan geopolitik global. Kenaikan biaya produksi ini sayangnya tidak bisa dibebankan langsung kepada konsumen yang daya belinya sedang terbatas. Akibatnya, margin keuntungan produsen tergerus tajam. Situasi ini menunjukkan bahwa meski upah buruh di Jawa Tengah relatif murah, industri garmen tetap rentan terhadap guncangan rantai pasok global dan fluktuasi pasar internasional.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca