Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan perdagangan 20-24 Juli 2026 dengan catatan hijau, naik tipis 0,34 persen ke level 6.196,43. Namun, angka ini menyimpan anomali besar. Di balik penguatan tersebut, pasar modal Indonesia sebenarnya sedang mengalami tekanan jual yang cukup signifikan dari investor asing. Sepanjang pekan tersebut, pemodal internasional membukukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp3,38 triliun di pasar reguler. Angka ini berbalik drastis dibandingkan pekan sebelumnya yang masih mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp442,05 miilar.
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa fondasi penguatan indeks kali ini terbilang rapuh. Dari sisi jumlah emiten, pergerakan harga saham didominasi oleh tren koreksi. Sebanyak 385 saham tercatat melemah, melampaui jumlah saham yang berhasil menguat sebanyak 351 emiten, sementara 229 saham lainnya tidak bergerak alias stagnan. Kenyataan ini dipertegas oleh porsi kapitalisasi pasar, di mana sekitar 54 persen kapitalisasi pasar dikuasai oleh saham-saham yang nilainya menyusut. Sebaliknya, saham yang bergerak positif hanya mewakili 40 persen dari total kapitalisasi pasar. Kondisi ini mengonfirmasi bahwa laju IHSG lebih banyak disokong oleh segelintir saham tertentu saja, sementara mayoritas saham, khususnya yang berkapitalisasi besar, justru sedang tertekan.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Meskipun demikian, gairah perdagangan di lantai bursa terpantau melonjak tajam sepanjang pekan tersebut. Aktivitas transaksi harian mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian melesat hingga 41,21 persen menjadi Rp19,76 triliun. Sejalan dengan itu, rata-rata volume perdagangan harian juga meroket sebesar 66,88 persen, menyentuh angka 43,68 miliar saham. Tingginya volume dan nilai transaksi ini mengindikasikan adanya perputaran dana yang besar di tengah proses rebalancing portofolio oleh para pelaku pasar.
Menariknya, di tengah kepungan aksi jual masif senilai triliunan rupiah tersebut, investor asing tidak sepenuhnya angkat kaki. Mereka terpantau melakukan strategi akumulasi secara selektif pada sejumlah saham tertentu. Saham PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) menjadi incaran utama dengan nilai beli bersih asing terbesar, yakni mencapai Rp295,7 miliar, yang ditransaksikan melalui pasar negosiasi. Di posisi kedua, saham emiten kendaraan listrik PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) diburu asing dengan nilai Rp290,5 miliar. Menyusul di peringkat ketiga adalah emiten infrastruktur energi PT Barito Pacific Tbk (BRPT), yang mengantongi net buy asing sebesar Rp209,3 miliar.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Selain tiga saham teratas tersebut, aliran dana asing juga mengalir ke sektor komoditas, infrastruktur, dan konsumer. Saham BUMN tambang PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mencatatkan beli bersih asing sebesar Rp100 miliar, disusul oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai Rp95,1 miliar dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sebesar Rp87,8 miliar. Emiten tambang batu bara PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) turut dikoleksi asing dengan nilai Rp67 miliar. Sementara itu, sektor konsumer diwakili oleh duo Indofood, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebesar Rp60 miliar dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) senilai Rp57,4 miliar. Daftar sepuluh besar saham yang paling banyak dikoleksi asing ditutup oleh emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan nilai akumulasi sebesar Rp56,5 miliar. Langkah selektif ini memperlihatkan bahwa meski secara umum modal asing keluar, prospek emiten-emiten tertentu tetap dinilai menjanjikan.






