Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa transformasi industri yang dipacu oleh digitalisasi, kecerdasan buatan, otomatisasi, transisi ekonomi hijau, dan perubahan rantai pasok global menuntut lebih dari sekadar mesin—ia memerlukan manusia yang adaptif dan berstandar internasional. Di penghujung pekan ini, Agus mendorong pelaku industri untuk mengambil peran lebih besar dalam memperkuat pendidikan vokasi. Ia menyebut penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai prioritas nasional sekaligus fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten.
Pemerintah, menurut Agus, tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi antara institusi pendidikan dan dunia usaha menjadi prasyarat agar kurikulum, sarana belajar, dan kompetensi lulusan benar-benar selaras dengan kebutuhan industri. Tanpa kolaborasi yang erat, lulusan vokasi hanya akan menjadi penonton di tengah percepatan teknologi yang terus bergerak.
Komitmen itu mulai dijawab di halaman sekolah. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) memperluas program Vocational School Development ke Provinsi Bali dengan menyerahkan donasi mesin berteknologi kendaraan terkini. Satu unit mesin Toyota tipe 2TR berbahan bakar bensin diberikan kepada SMKN 1 Denpasar, sementara satu unit mesin diesel 2GD mengalir ke SMK Rekayasa Denpasar. Kedua mesin itu dirancang untuk menopang praktik siswa Jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif agar mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengakrabi teknologi yang sesungguhnya dipakai di pabrik.
Bau Busuk dari Lorong Sempit Pondok Ranji Ungkap Kematian Misterius

Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, memandang langkah ini sebagai investasi paling strategis. “Investasi terbaik bagi industri adalah investasi pada manusia,” ujarnya. Ia meyakini sekolah vokasi adalah ruang untuk menumbuhkan kompetensi sekaligus karakter calon talenta industri. Harapannya, semakin banyak lulusan SMK yang sanggup beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan industri nasional.
Lebih dari sekadar bantuan alat, TMMIN membawa standar kerja Toyota ke dalam kelas. Guru-guru mendapat pelatihan keterampilan dasar industri, kurikulum diselaraskan dengan ritme pabrik, dan budaya kerja—disiplin, keselamatan, kualitas, serta semangat perbaikan berkelanjutan—ditanamkan sejak dini. Wakil Presiden Direktur TMMIN, I Nyoman Winaya Adnyana, menekankan bahwa kolaborasi sekolah, pemerintah, dan industri adalah kunci untuk membangun ekosistem vokasi yang berkelanjutan. “Ketika sekolah memiliki akses pembelajaran berstandar industri, guru terus mengembangkan kompetensi, dan siswa memperoleh pengalaman praktik yang relevan, maka talenta yang lebih siap akan lahir,” katanya.
El Nino dan Perang Gerus Produksi Beras Dunia, Turun Pertama Kali dalam 11 Tahun

Program yang digerakkan oleh filosofi “Make People Before Make Product” itu sudah bergulir sejak 2017. Hingga kini, ia telah menjangkau 30 SMK binaan di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 2026, perusahaan akan menambah empat SMK baru di Bali dan Lombok, menjadikan total 34 sekolah binaan secara nasional. Ekspansi ini menunjukkan bahwa industri tidak lagi sekadar menanti lulusan siap pakai; mereka kini turun langsung ke lantai sekolah untuk membentuk manusia yang mampu menjadi tulang punggung pertumbuhan industri nasional.






