Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari 2025 yang membawa angin segar bagi perekonomian nasional. Tingkat inflasi tahunan tercatat melandai menjadi 2,65 persen (year-on-year), turun dari 2,85 persen pada Januari 2025. Penurunan ini terutama ditopang oleh menyusutnya tekanan harga pangan seiring masuknya puncak panen raya di sejumlah sentra produksi. Secara bulanan, IHK bahkan mencatat deflasi 0,12 persen, menandai pertama kalinya harga-harga secara umum turun dalam tahun berjalan.
Rincian komponen IHK menunjukkan bahwa inflasi inti鈥攜ang mengeluarkan harga pangan bergejolak dan harga diatur pemerintah鈥攖etap terkendali pada level 2,30 persen secara tahunan, sedikit di bawah konsensus pasar yang memperkirakan 2,35 persen. Sementara itu, kelompok harga bergejolak (volatile food) menjadi kontributor utama deflasi bulanan dengan penurunan 0,95 persen dibanding Januari. Penurunan signifikan terjadi pada harga beras, cabai merah, dan bawang merah yang stoknya melimpah berkat panen di Jawa dan Sumatera. Kelompok harga diatur pemerintah (administered prices) hanya naik tipis 0,05 persen setelah penyesuaian tarif air minum di beberapa wilayah, tanpa kenaikan BBM atau tarif listrik.
Investasi Manusia, Kunci Industri dari Sekolah Vokasi

Dari sisi pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil deflasi terbesar, diikuti oleh perlengkapan pribadi dan sandang yang juga melandai akibat diskon musiman pasca-Liburan Tahun Baru. Sebaliknya, biaya transportasi naik tipis 0,10 persen dipicu kenaikan harga tiket pesawat rute domestik setelah berakhirnya masa liburan. Komponen perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga relatif stabil. Secara global, harga minyak mentah dunia yang masih di kisaran wajar turut meredam potensi tekanan impor.
Respons pasar dan otoritas cukup positif. Sejumlah analis menilai inflasi yang melandai memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap menahan suku bunga acuan di 5,75 persen, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar. Rupiah pun bergerak menguat tipis setelah rilis data. Pemerintah menyambut baik terkendalinya harga pangan sebagai hasil koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan percepatan distribusi. Momentum ini dianggap penting untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, di tengah pemulihan konsumsi rumah tangga.
El Nino dan Perang Gerus Produksi Beras Dunia, Turun Pertama Kali dalam 11 Tahun

Ke depan, tantangan inflasi akan bergeser pada faktor musiman Ramadan dan Idulfitri yang diperkirakan jatuh pada Maret鈥揂pril 2025. Lonjakan permintaan pangan dan tarif transportasi biasanya memicu kenaikan indeks pada periode tersebut. Namun, pemerintah telah menggencarkan operasi pasar dan memperkuat stok cadangan beras. BPS dan bank sentral optimistis inflasi sepanjang tahun masih dalam sasaran 2,5 plus minus satu persen. Dengan fundamental inflasi Februari yang solid, fondasi bagi stabilitas harga menuju pertengahan tahun terlihat cukup kokoh.






