Pemerintah Indonesia secara resmi mulai menjajaki peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk merealisasikan proyek pembangunan jalur kereta api Trans Kalimantan Railway. Langkah penjajakan ini tidak hanya menyasar pihak domestik, melainkan juga merambah ke kancah internasional. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebutkan bahwa pihaknya telah memulai proses penjajakan tersebut dengan mengundang minat para investor dari luar negeri, khususnya dari China dan Rusia. Kehadiran investor asing ini diharapkan dapat membantu mewujudkan jaringan transportasi rel di Pulau Kalimantan.
Penjelasan mengenai perkembangan proyek strategis nasional ini disampaikan langsung oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (6/8). Dudy memaparkan bahwa Kementerian Perhubungan telah menyusun sebuah peta jalan atau roadmap yang terstruktur serta melakukan koordinasi intensif dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Langkah koordinasi dan penyusunan roadmap ini ditujukan untuk mematangkan rencana pembangunan dua proyek perkeretaapian besar nasional, yakni Trans Sumatra dan Trans Kalimantan.
Dalam penjelasannya, Dudy Purwagandhi juga menjabarkan perbedaan kondisi lapangan yang signifikan antara proyek di Sumatra dan Kalimantan. Untuk proyek Trans Sumatra, jalurnya sebagian memang sudah tersedia di beberapa wilayah, sehingga pemerintah hanya tinggal menghubungkan bagian rel yang masih terputus agar menjadi satu kesatuan jalur yang utuh. Sebaliknya, tantangan yang berbeda harus dihadapi dalam proyek Trans Kalimantan Railway, di mana pembangunan fisik infrastruktur rel kereta api harus benar-benar dimulai dari awal.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Proyek pembangunan jalur kereta api ini nantinya akan melibatkan KAI, yang merupakan bagian dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Dalam pembagian minat dan fokus kerja sama, terdapat perbedaan ketertarikan antara pihak KAI dan investor asing. KAI tampaknya memiliki minat yang lebih besar untuk mengembangkan sektor logistik pada proyek perkeretaapian di wilayah Sumatra. Sementara itu, untuk pembangunan jalur kereta api di Trans Kalimantan, pihak investor dari China dan Rusia terlihat menunjukkan ketertarikan yang lebih kuat untuk terlibat dalam pengembangannya.
Meskipun minat dari para investor luar negeri sudah mulai terlihat, pemerintah Indonesia belum menetapkan keputusan akhir terkait nilai proyek ini. Hingga saat ini, belum ada perhitungan angka investasi yang pasti untuk mendanai pembangunan jalur perkeretaapian tersebut. Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pemerintah masih memantau perkembangan dan akan melihat terlebih dahulu bagaimana perhitungan bisnis yang ditawarkan oleh para investor tersebut sebelum menyepakati kerja sama konkret.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Niat untuk menggarap proyek Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan ini sebelumnya juga telah disampaikan oleh Prabowo. Prabowo menekankan pentingnya kehadiran moda transportasi kereta api bagi masyarakat luas, terutama bagi kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah. Dalam pandangannya, kereta api memiliki peran yang sangat besar sebagai instrumen logistik yang ekonomis untuk mendukung mobilitas barang. Lebih lanjut, Prabowo meyakini bahwa transportasi publik kereta api merupakan instrumen penting yang dapat menumbuhkan ekonomi rakyat Indonesia. Ia juga menyebutkan bahwa di banyak negara, kereta api diposisikan sebagai bentuk pelayanan publik kepada masyarakat luas dan tidak semata-mata dikelola sebagai entitas yang hanya mengejar keuntungan.






