IHSG Parkir di Zona Hijau Saat Investor Asing Buang Saham Triliunan Rupiah

Andi TobanPublished 27 Jul 2026 - 09.300 Reads
Bagikan WhatsAppX
IHSG Parkir di Zona Hijau Saat Investor Asing Buang Saham Triliunan Rupiah
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Gerak Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) sering kali menyimpan cerita yang bertolak belakang dengan apa yang tampak di permukaan. Sepanjang pekan perdagangan 20 hingga 24 Juli 2026, indeks saham kebanggaan tanah air ini memang berhasil parkir di zona hijau dengan penguatan tipis. Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat gelombang keluar modal asing yang cukup deras. Investor luar negeri secara mengejutkan berbalik arah dengan melakukan aksi jual bersih yang masif, meninggalkan pasar saham domestik dalam kondisi yang sebenarnya cukup rentan.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing menembus angka Rp3,38 triliun hanya dalam kurun waktu lima hari perdagangan tersebut. Angka ini menandakan perubahan sentimen yang sangat drastis jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Pada pekan lalu, pasar masih menikmati aliran modal masuk dengan catatan beli bersih sebesar Rp442,05 miiliar. Peralihan instan dari akumulasi menjadi distribusi ini menunjukkan adanya perubahan strategi atau kekhawatiran tertentu di kalangan pemodal internasional.

Pelepasan aset oleh asing ini menyasar saham-saham berkapitalisasi pasar besar alias blue chip yang biasanya menjadi motor penggerak indeks. Sektor perbankan dan otomotif menjadi korban utama dari aksi lego ini. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menempati urutan teratas sebagai saham yang paling banyak dilego dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp854,7 miliar. Tidak ketinggalan, saham PT Astra International Tbk (ASII) juga dilepas asing sebesar Rp497,2 miliar, disusul oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai net sell sebesar Rp310,5 miliar.

Also Read

Eskalasi Geopolitik Global Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Fenomena ini menjadi menarik karena IHSG sebenarnya masih mampu ditutup menguat 0,34 persen ke level 6.196,43 dari posisi pekan sebelumnya di level 6.175,54. Sepanjang pekan, pergerakan indeks bahkan sempat menyentuh titik tertinggi di level 6.454,31 sebelum akhirnya melandai ke titik terendah di level 6.159,15. Perdagangan pun berlangsung sangat semarak, tecermin dari kenaikan rata-rata volume transaksi harian sebesar 66,88 persen menjadi 43,68 miliar saham. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian juga melonjak signifikan sebesar 41,21 persen hingga menyentuh Rp19,76 triliun.

Namun, kemeriahan transaksi tersebut tidak mencerminkan kesehatan pasar secara keseluruhan. Jika membedah struktur pergerakan harga, mayoritas saham di bursa sebenarnya sedang mengalami tekanan. Tercatat ada 385 emiten yang harganya merosot, melampaui jumlah emiten yang berhasil menguat sebanyak 351 saham, sementara 229 saham lainnya jalan di tempat. Dari sisi bobot kapitalisasi pasar, sekitar 54 persen kapitalisasi pasar dikuasai oleh saham-saham yang terkoreksi, berbanding terbalik dengan saham yang menguat yang hanya mewakili 40 persen dari total kapitalisasi.

Also Read

Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Komponen Pesawat dan LPG untuk Stimulus Industri

Kondisi timpang ini menegaskan bahwa apresiasi tipis pada IHSG pekan ini hanyalah topangan dari segelintir saham tertentu yang kebetulan mengalami kenaikan signifikan. Di bawah permukaan, tekanan jual masih sangat kuat dan mendominasi sebagian besar sektor, terutama pada saham-saham berbobot besar. Bagi para pelaku pasar, situasi ini menjadi sinyal peringatan bahwa penguatan indeks saat ini tidak ditopang oleh fondasi yang menyeluruh, melainkan sebuah anomali di tengah aksi angkat kaki investor asing secara berjamaah.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca