Pasar saham regional Asia boleh saja berpesta pora di zona hijau pada awal pekan ini. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia justru harus gigit jari. Pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026), IHSG terpuruk di teritori negatif akibat kombinasi sentimen domestik berupa pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia dan sikap hati-hati global menjelang pengumuman suku bunga acuan Amerika Serikat. Indeks domestik melemah 10,65 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,78, sementara indeks saham-saham unggulan LQ45 menyusut 2,23 poin ke posisi 612,56.
Ketidakpastian dari dalam negeri bersumber dari kursi kepemimpinan bank sentral. Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia memicu kekhawatiran pelaku pasar. Kendati Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti telah ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara demi menjaga roda organisasi tetap berjalan, pasar masih diliputi kecemasan. Investor masih meraba-raba arah kebijakan moneter ke depan, independensi Bank Indonesia, serta dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah di masa transisi ini.
Dari luar negeri, pasar global tengah memasuki fase menanti (wait and see) menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli 2026. Keputusan bank sentral AS (The Fed) mengenai suku bunga acuan akan menjadi penentu arah likuiditas global. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebenarnya mulai mereda setelah AS menghentikan serangan ke Iran dan Teheran menyetop aksi balasan terhadap sekutu AS. Meredanya konflik ini menekan harga minyak mentah dunia, yang pada gilirannya mengurangi kekhawatiran inflasi energi global.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Selain The Fed, perhatian investor global pekan ini terbagi pada beberapa agenda penting lainnya. Arah kebijakan moneter dari Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE) turut dinanti. Rangkaian data makroekonomi AS, seperti inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), pertumbuhan ekonomi kuartal kedua, dan pesanan barang tahan lama juga menjadi fokus utama. Sementara dari China, pasar memantau rapat Politbiro untuk melihat arah stimulus ekonomi paruh kedua tahun ini, di tengah laporan pertumbuhan laba industri yang sedikit melambat menjadi 18,7 persen.
Secara sektoral, pelemahan IHSG didorong oleh kejatuhan delapan sektor industri. Sektor infrastruktur mencatat koreksi terdalam hingga 1,29 persen, disusul sektor properti yang merosot 0,75 persen, dan sektor energi yang melemah 0,66 persen. Sebaliknya, hanya ada dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau, yakni sektor industri yang naik 0,72 persen dan sektor teknologi yang menguat 0,33 persen. Saham-saham seperti DMMX, BAJA, ZONE, TAMA, dan MCAS mencatatkan kenaikan tertinggi, sedangkan KDTN, ARKO, MLPT, OMRE, dan OILS menjadi pemberat indeks.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Perdagangan hari itu ditutup dengan frekuensi transaksi mencapai 1,79 juta kali, melibatkan 26 miliar lembar saham senilai Rp 12,12 triliun. Sebanyak 360 saham melemah, 318 saham menguat, dan 287 saham stagnan. Rapor merah IHSG ini sangat kontras dengan bursa utama Asia lainnya yang kompak menguat, di mana Nikkei naik 0,66 persen, Shanghai Composite melonjak 1,15 persen, Hang Seng terapresiasi 0,98 persen, Kospi terangkat 0,97 persen, dan Straits Times naik 0,55 persen.






