Pasar modal Indonesia baru saja melewati ujian ketahanan yang cukup krusial setelah dikejutkan oleh kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pengumuman mendadak dari nakhoda bank sentral tersebut langsung memicu reaksi di lantai bursa pada perdagangan hari Senin, 27 Juli 2026. Meski sempat tertekan cukup dalam, Indeks Harga Saham Gabungan berhasil menunjukkan daya lenturnya dengan memangkas sebagian besar pelemahan menjelang penutupan pasar.
Indeks acuan saham tanah air tersebut akhirnya menyudahi perdagangan dengan koreksi tipis sebesar 0,17 persen, parkir di level 6.185,78. Kendati berakhir di zona merah, kemampuan indeks untuk bangkit dari kejatuhan yang lebih dalam mengindikasikan adanya aksi beli domestik yang menahan kejatuhan lebih lanjut. Aktivitas perdagangan hari itu tergolong sepi dengan total nilai transaksi yang membukukan angka Rp12,17 triliun. Volume saham yang berpindah tangan mencapai 27,77 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,81 juta kali.
Di balik bertahannya indeks dari kejatuhan yang parah, pergerakan modal asing justru menunjukkan arah sebaliknya. Para pemodal internasional tampak memilih langkah aman dengan menarik dana mereka secara massal dari pasar saham Indonesia. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net foreign sell yang cukup jumbo, yakni mencapai Rp820,67 miliyar di seluruh pasar. Aksi lego saham ini paling banyak terjadi di pasar reguler dengan nilai mencapai Rp491,89 miliar, sementara sisanya sebesar Rp328,77 miliar dilepas melalui pasar negosiasi dan tunai.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Peta kekuatan sektoral di lantai bursa pun memperlihatkan persaingan sengit antara sentimen positif dan negatif. Hingga akhir sesi perdagangan, tercatat ada 341 saham yang terpaksa melemah dan menjadi beban bagi pergerakan indeks. Di sisi lain, sebanyak 307 saham masih mampu melawan arus dengan mencatatkan penguatan harga, sedangkan 147 saham lainnya bergerak stagnan alias tidak mengalami perubahan nilai dibanding hari sebelumnya.
Secara historis, pergantian kepemimpinan di bank sentral selalu menjadi katalis sensitif bagi pasar keuangan karena berkaitan erat dengan arah kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar rupiah ke depan. Keputusan Perry Warjiyo untuk mundur tentu menimbulkan ketidakpastian jangka pendek. Namun, melihat koreksi IHSG yang relatif terbatas, pasar tampaknya tidak terlalu panik dan lebih memilih untuk bersikap wait and see sembari menunggu kejelasan mengenai sosok pengganti yang akan memimpin Bank Indonesia selanjutnya.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Kini, fokus para pelaku pasar akan tertuju pada bagaimana pemerintah dan otoritas terkait merespons kekosongan kursi nomor satu di bank sentral tersebut. Kecepatan dan ketepatan dalam menentukan penjabat baru akan menjadi kunci utama untuk meredam aksi jual oleh investor asing dan mengembalikan kepercayaan mereka ke pasar keuangan domestik. Perdagangan pada hari-hari berikutnya akan menjadi penentu apakah IHSG mampu berbalik arah ke zona hijau atau justru terus tertekan oleh sentimen eksternal ini.






