Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan bergerak menguat pada pembukaan perdagangan hari Selasa (4/8). Indeks diperkirakan akan melaju pada rentang level 6.358 hingga 6.454. Proyeksi rebound ini muncul setelah pada perdagangan hari Senin (3/8) sebelumnya, indeks ditutup melemah tipis sebesar 1,63 poin atau sekitar 0,03 persen ke level 6.234,93. Sentimen positif yang menopang pergerakan indeks kali ini datang dari kombinasi rilis data inflasi domestik yang tetap terkendali serta tren penurunan harga minyak mentah di pasar global.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa secara teknikal pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase akumulasi. Kondisi tersebut membuka potensi bagi indeks saham domestik untuk melanjutkan ekspansi dan membentuk momentum bullish dalam jangka pendek. Meskipun demikian, para investor perlu mencermati beberapa indikator pasar. Indikator teknikal seperti Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) saat ini masih menunjukkan sinyal negatif. Di sisi lain, penguatan volume transaksi yang terjadi di pasar menjadi katalis positif yang mendukung potensi penguatan indeks tersebut. Selain itu, valuasi saham di Indonesia dinilai masih relatif menarik bagi para investor asing maupun domestik, dengan rasio Price to Earnings (P/E) yang berada di level 9,30x.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Dari faktor eksternal, pergerakan indeks mendapat sentimen positif dari penurunan harga minyak mentah dunia, baik untuk jenis West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent. Melemahnya harga komoditas energi ini tidak lepas dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebutkan bahwa negosiasi dengan Iran akan segera dimulai pada pekan ini. Redanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah tersebut secara langsung menekan premi risiko global, yang kemudian memberikan dampak positif bagi stabilitas pasar keuangan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di ranah domestik, fundamental ekonomi Indonesia juga menunjukkan kondisi yang cukup solid untuk mendukung laju pasar modal. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi untuk tahun kalender hingga Juli 2026 berada di angka 1,65 persen. Angka inflasi yang terkendali ini, dikombinasikan dengan meredanya premi risiko geopolitik global, memberikan ruang yang cukup longgar bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan stabilitas kebijakan moneter serta menjaga tingkat suku bunga acuan atau BI-Rate. Kebijakan moneter yang stabil ini menjadi jaminan penting bagi pelaku pasar untuk tetap menempatkan dana mereka di pasar ekuitas dalam negeri.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Senada dengan proyeksi tersebut, analis dari MNC Sekuritas juga menilai prospek pergerakan IHSG masih berada dalam tren yang cukup positif. Kendati sempat mengalami koreksi tipis pada awal pekan kemarin, posisi indeks terpantau tetap bertahan di atas rata-rata pergerakan 60 hari atau Moving Average 60 (MA60). MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dengan target pergerakan di kisaran 6.352 hingga 6.545. Namun, para pelaku pasar tetap diimbau untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian pergerakan pasar. Analisis teknikal menunjukkan adanya potensi pembalikan arah dalam jangka pendek (short-term reversal) yang dapat menekan pergerakan IHSG kembali ke rentang level 6.122 hingga 6.180 apabila tekanan jual kembali meningkat.






