JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta jajaran pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan nyata guna mengatasi anjloknya harga tomat di tingkat produsen. Pemerintah daerah diimbau untuk menginisiasi gerakan atau aksi "bela beli" komoditas tomat langsung dari para petani guna menyelamatkan mereka dari kerugian yang lebih besar akibat melimpahnya hasil produksi di berbagai sentra pertanian.
Sebagai langkah konkret, Bapanas telah memelopori aksi beli tomat secara internal pada hari Senin (27/7/2026). Aksi solidaritas yang diselenggarakan di kantor Bapanas, Jakarta, tersebut melibatkan partisipasi aktif dari para pegawai lembaga untuk membeli tomat hasil panen yang didatangkan langsung dari petani asal Kabupaten Cianjur. Dalam kegiatan ini, tomat-tomat dari petani Cianjur dibeli dengan harga Rp 6.500 per kilogram, nilai yang jauh lebih layak dibandingkan harga jual di tingkat petani saat ini.
Penurunan harga tomat di tingkat petani belakangan ini memang terbilang sangat drastis dan mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan yang ada, harga tomat yang biasanya mampu bertahan di kisaran Rp 12.000 per kilogram kini mengalami koreksi yang sangat tajam. Di lapangan, harga komoditas hortikultura ini merosot hingga menyentuh angka hampir Rp 1.000 sampai Rp 1.600 saja per kilogramnya. Kondisi ini dinilai sangat menekan pendapatan dan mengancam kelangsungan usaha para petani.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan wilayah untuk meredam dampak penurunan harga ini. Ketut secara terbuka mengajak para kepala daerah, mulai dari gubernur, bupati, hingga wali kota, untuk segera bergerak. Ia meminta mereka menggerakkan dinas-dinas terkait di wilayah masing-masing agar ikut serta mendukung dan menyukseskan aksi bela beli produk pertanian lokal tersebut.
Dalam aksi penyelamatan harga kali ini, Bapanas secara khusus memfasilitasi pemasaran tomat segar yang dipasok langsung dari Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Upaya fasilitasi ini diharapkan dapat memotong rantai distribusi yang panjang sehingga para petani bisa mendapatkan harga jual yang lebih adil dan menguntungkan di tengah situasi pasar yang sedang lesu.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi para petani tidak hanya sebatas persoalan harga. Kondisi iklim juga menjadi faktor penentu dalam proses produksi. Nana Ariatna, salah satu petani tomat yang mewakili kelompok tani asal Kabupaten Cianjur, menjelaskan bahwa kondisi kemarau yang cukup panjang pada musim ini sebenarnya telah membuat banyak tanaman tidak dapat tumbuh dengan optimal. Kendati pertumbuhan sebagian tanaman terganggu akibat keterbatasan air, melimpahnya produksi secara kumulatif di wilayah tersebut tetap memicu kejatuhan harga yang signifikan.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Sebagai bagian dari upaya perluasan pasar dan penyaluran hasil panen yang melimpah, kelompok tani yang diwakili oleh Nana Ariatna dilaporkan telah memasok sekitar 3,3 ton tomat ke wilayah Jakarta. Selain itu, mereka juga mengirimkan sekitar 4 ton tomat ke wilayah Bogor guna memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus menjaga pasokan di pasar-pasar penyangga ibu kota.
Dengan adanya dorongan dari pemerintah pusat serta keterlibatan aktif dari pemerintah daerah melalui aksi bela beli, diharapkan harga tomat di tingkat petani dapat segera merangkak naik menuju tingkat yang wajar dan stabil. Langkah ini krusial agar para petani tidak terus-menerus menanggung kerugian yang dapat mengancam ketahanan pangan di masa mendatang.






