Harga Minyak Dunia Turun Tajam Setelah Amerika Serikat dan Iran Menahan Diri

Agus CahyonoPublished 27 Jul 2026 - 07.420 Reads
Bagikan WhatsAppX
Harga Minyak Dunia Turun Tajam Setelah Amerika Serikat dan Iran Menahan Diri
Foto/Ilustrasi: mediaindonesia.com.
A-A+

Dunia internasional akhirnya mendapatkan embusan napas lega setelah ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan tanda-tanda mereda. Keputusan kedua belah pihak untuk menangguhkan aksi saling serang selama akhir pekan segera direspons positif oleh pasar energi global. Pada perdagangan Senin pagi di Asia, harga minyak mentah langsung merosot tajam. Minyak mentah Brent terpangkas sebesar 5,89 persen menjadi US$91,08 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,73 persen ke level US$84,19 per barel. Penurunan ini menjadi indikator kuat betapa sensitifnya sektor ekonomi global terhadap dinamika keamanan di Selat Hormuz.

Jeda pertempuran ini terjadi setelah militer Amerika Serikat menggempur wilayah Iran selama 13 malam berturut-turut. Langkah diplomasi kini mulai dikedepankan oleh Washington. Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump sengaja memberikan ruang bagi jalur negosiasi, meskipun pasukan mereka tetap dalam kondisi siaga tempur. Di kubu seberang, Teheran menyambut langkah ini secara timbal balik. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengonfirmasi pihaknya juga menghentikan operasi balasan terhadap sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah, mengingat strategi pertahanan mereka bersifat defensif.

Also Read

Mengapa Konflik Timur Tengah Gagal Dongkrak Harga Emas

Di koridor politik Washington, penundaan serangan ini sempat memicu spekulasi mengenai menipisnya stok amunisi pertahanan Amerika Serikat. Namun, tuduhan tersebut segera dibantah keras oleh Waltz yang menegaskan bahwa logistik militer AS masih sangat memadai untuk melanjutkan operasi jika diperlukan. Penurunan tensi ini juga tidak lepas dari tekanan domestik yang dihadapi Trump. Konflik yang telah memasuki bulan kelima ini mulai menggerogoti tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya, situasi yang sangat krusial menjelang pemilihan sela pada November mendatang. Trump sendiri mengakui bahwa komunikasi intensif dengan pihak Teheran sedang berlangsung dan menunjukkan arah yang lebih serius.

Kendati situasi di Selat Hormuz mereda, jalan menuju perdamaian abadi masih sangat terjal. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan bertemu dengan Trump di Gedung Putih pada hari Selasa. Kehadiran Netanyahu diprediksi akan membawa misi khusus untuk mendesak Washington agar tetap bersikap keras terhadap program nuklir Iran. Bagi Israel, penghentian aktivitas nuklir Teheran merupakan harga mati yang harus dicapai, baik melalui jalur diplomasi formal maupun tindakan militer yang lebih tegas. Tekanan dari sekutu utama AS ini berpotensi kembali memanaskan situasi yang baru saja mendingin.

Also Read

Siasat Pendanaan Pusat Finansial Baru Indonesia Tanpa Menguras APBN

Di sisi lain, stabilitas kawasan Timur Tengah masih dibayangi oleh konflik di front lain. Kelompok Houthi di Yaman baru-baru ini mengklaim telah menjatuhkan drone milik Arab Saudi serta menyerang fasilitas minyak Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu. Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, fluktuasi harga minyak akibat ketegangan ini sangat memengaruhi stabilitas domestik. Lonjakan harga minyak sebelumnya sempat menekan nilai tukar Rupiah hingga mendekati level Rp17.993 per dolar AS dan mengoreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Oleh karena itu, jeda konflik saat ini menjadi momen krusial untuk menjaga stabilitas APBN dan menekan risiko defisit impor energi.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca