Harga minyak dunia kembali bergerak di zona hijau pada awal perdagangan hari Rabu (29/7), setelah sempat mengalami tekanan hebat pada sesi sebelumnya. Kenaikan harga ini memulihkan sebagian kerugian pasar setelah pada hari Selasa (28/7) harga minyak merosot sekitar 5 persen hingga menyentuh level terendah dalam kurun waktu dua pekan terakhir. Pulihnya harga minyak mentah global saat ini didorong oleh laporan penyusutan cadangan minyak mentah di Amerika Serikat serta munculnya spekulasi terkait kebijakan produksi dari kelompok produsen OPEC+.
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 00.02 GMT, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent mencatatkan kenaikan sebesar USD 2,71 atau sekitar 3,2 persen, yang menempatkannya pada level USD 86,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga menguat secara signifikan dengan kenaikan sebesar USD 2,26 atau sekitar 3,4 persen ke posisi USD 81,95 per barel. Pergerakan positif ini menunjukkan reaksi cepat pasar dalam merespons dinamika pasokan terbaru.
Faktor utama yang memicu sentimen positif ini adalah rilis data persediaan minyak mentah domestik Amerika Serikat dari American Petroleum Institute (API). Menurut laporan API tersebut, persediaan minyak mentah AS menyusut sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir tanggal 24 Juli. Penurunan cadangan yang cukup besar ini mengindikasikan adanya penyerapan pasokan yang kuat di negara konsumen minyak terbesar di dunia tersebut.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Kendati stok minyak mentah mengalami penurunan, data API juga menunjukkan adanya peningkatan pada cadangan produk olahan. Persediaan bensin di Amerika Serikat justru terpantau bertambah sebanyak 918.000 barel. Selain itu, persediaan produk sulingan atau distillate juga mengalami peningkatan sebesar 355.000 barel jika dibandingkan dengan kondisi pada pekan sebelumnya. Perbedaan arah pergerakan stok antara minyak mentah dan produk olahan ini memberikan gambaran yang cukup beragam bagi para pelaku pasar.
Di samping data persediaan AS, pergerakan harga minyak kali ini juga ditopang oleh spekulasi mengenai langkah strategis kelompok negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+). Terdapat spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa OPEC+ akan menghentikan sementara rencana mereka untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak. Penundaan kenaikan produksi tersebut diperkirakan akan berlangsung selama tiga bulan, yang dimulai pada bulan Oktober mendatang. Langkah penundaan ini dinilai berpotensi menjaga stabilitas harga dengan menahan pasokan baru masuk ke pasar.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Di ranah geopolitik, ketidakpastian masih terus membayangi dan memengaruhi pergerakan harga komoditas ini. Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan kepada media Fox News bahwa telah terjadi "pembicaraan yang baik" dengan pihak Iran setelah Amerika Serikat menghentikan kampanye pengebomannya selama dua pekan. Namun, klaim mengenai peluang negosiasi ini segera dibantah oleh pihak Iran, yang menegaskan bahwa mereka tidak sedang berupaya untuk melanjutkan kembali perundingan dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, terdapat pula perkembangan diplomatik dari wilayah perairan strategis Timur Tengah. Negara Oman dilaporkan telah mengajukan sebuah proposal kepada Iran untuk mengelola arus lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Rencana pengelolaan yang diusulkan oleh Oman tersebut mencakup penerapan pungutan sukarela bagi kapal-kapal yang melintas. Mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia, perkembangan proposal ini terus dipantau secara ketat oleh pelaku industri energi global.






