Pasar komoditas global menunjukkan tren melemah secara serentak pada penutupan perdagangan hari Selasa (28/7). Penurunan harga ini melanda berbagai sektor komoditas utama, mulai dari batu bara, nikel, timah, hingga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh pergeseran pasokan, perubahan tensi geopolitik, serta fluktuasi permintaan dari negara-negara konsumen utama.
Di sektor energi, harga batu bara terpantau mengalami penurunan tipis sebesar 0,04 persen menjadi USD 130,25 per ton pada penutupan perdagangan hari Selasa. Sepanjang akhir Juli, harga kontrak berjangka untuk batu bara termal ini cenderung bertahan di kisaran USD 130 per ton. Meskipun mengalami pelemahan, pergerakan harga batu bara tertahan oleh adanya risiko gangguan pasokan dari Indonesia. Cuaca kering yang melanda wilayah Kalimantan dilaporkan telah mengganggu jalur pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito. Hambatan transportasi di jalur sungai utama ini memicu potensi keterlambatan ekspor dan berisiko memperketat ketersediaan pasokan batu bara di pasar global.
Selain faktor cuaca di Indonesia, pergerakan harga batu bara juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik global. Kenaikan harga minyak bumi yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah sempat memberikan sentimen positif yang menopang harga batu bara. Namun, penguatan harga tersebut tidak dapat melaju lebih jauh akibat terbatasnya permintaan dari China. Sebagai salah satu konsumen terbesar, China saat ini masih mempertahankan tingkat persediaan batu bara yang tinggi di dalam negeri dan membatasi volume pembelian impor mereka.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Sementara itu, sektor logam industri di London Metal Exchange (LME) juga mencatatkan koreksi yang cukup signifikan. Harga nikel terpantau merosot sebesar 1,41 persen, sehingga menempatkan posisinya di level USD 16.970 per ton. Langkah serupa diikuti oleh komoditas timah yang mengalami penurunan lebih tajam, yakni sebesar 1,93 persen. Dengan pelemahan tersebut, harga timah di bursa LME kini berada pada tingkat USD 53.583 per ton.
Di sektor perkebunan, harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO juga tidak luput dari tekanan pasar. Pada penutupan perdagangan, harga CPO melemah sebesar 0,66 persen ke posisi MYR 4.624 per ton, dengan kontrak berjangka minyak sawit di Malaysia diperdagangkan di bawah level MYR 4.650 per ton. Tekanan terhadap CPO ini sebagian besar dipicu oleh penurunan harga minyak nabati pesaing yang diperdagangkan di Bursa Chicago dan Bursa Dalian. Selain itu, harga minyak mentah global yang turun setelah Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Iran turut meredakan ketegangan geopolitik. Meredanya ketegangan ini berdampak langsung pada penurunan prospek permintaan terhadap biodiesel, yang selama ini menjadi salah satu pilar penopang harga minyak sawit.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Kendati demikian, terdapat sejumlah faktor yang diperkirakan dapat menopang konsumsi minyak sawit ke depan. Volume pengiriman minyak sawit untuk periode 1–25 Juli diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 8,1 persen hingga 15,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Juni. Konsumsi CPO juga diproyeksikan mendapat dukungan dari kebijakan peningkatan mandat pencampuran biodiesel yang diterapkan di Indonesia dan Malaysia. Dari sisi ekspor, India selaku importir minyak sawit terbesar di dunia diperkirakan akan meningkatkan volume pembelian mereka pada periode Juli hingga Oktober akibat menipisnya pasokan minyak nabati domestik menjelang musim perayaan di negara tersebut. Di sisi lain, pelaku pasar juga perlu mewaspadai peringatan dari Malaysia mengenai potensi penurunan produksi minyak sawit pada tahun depan yang disebabkan oleh rekor suhu panas tertinggi.






