Pergerakan harga komoditas global kembali menunjukkan dinamika yang menarik perhatian pasar. Mayoritas harga komoditas energi terpantau mengalami pergerakan pada penutupan perdagangan hari Senin (17/8). Di tingkat domestik, aktivitas industri energi seperti pengangkutan komoditas tetap berjalan aktif. Hal ini terlihat salah satunya dari aktivitas di Kalimantan Timur, di mana sejumlah kapal tongkang yang bermuatan batu bara melintas di perairan Sungai Mahakam, Samarinda, pada hari Rabu (6/11/2024). Perubahan harga yang terjadi pada periode perdagangan ini bervariasi, dengan tren kenaikan yang dicatatkan oleh minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), batu bara, serta nikel, sementara komoditas logam lainnya seperti timah justru mengalami penurunan nilai.
Secara lebih rinci, komoditas minyak kelapa sawit mentah atau CPO mencatatkan kinerja yang cukup positif. Berdasarkan data yang dihimpun dari tradingeconomics pada hari Selasa (18/8), harga komoditas CPO ini ditutup pada level MYR 4.717 per ton. Angka penutupan ini menunjukkan bahwa harga CPO berhasil menguat sebesar 0,15 persen. Penguatan harga tersebut menjadi catatan penting bagi pasar kelapa sawit karena menandai level tertinggi bagi komoditas CPO sejak awal April yang lalu. Kenaikan harga ini didorong oleh sentimen positif dari bursa Dalian, di mana harga minyak nabati bergerak lebih kuat. Selain sentimen bursa Dalian, aksi beli yang dilakukan oleh para pelaku pasar turut memberikan dukungan tambahan yang memperkokoh penguatan harga komoditas kelapa sawit tersebut.
Menakar Rencana Penerapan Pajak Karbon di Indonesia dan Dampak Ekonominya

Tidak hanya CPO, komoditas energi lainnya yaitu batu bara juga terpantau mengalami penguatan harga dalam periode perdagangan yang sama. Merujuk pada data tradingeconomics, harga batu bara ditutup pada angka USD 129,30 per ton, yang berarti mengalami penguatan tipis sebesar 0,04 persen jika dibandingkan dengan harga pada hari perdagangan sebelumnya. Pada pertengahan Agustus, harga berjangka batu bara termal terpantau bergerak stabil di kisaran dekat USD 130 per ton. Secara umum, pergerakan harga batu bara cenderung bergerak mendatar atau sideways. Kondisi sideways ini dipicu oleh harga minyak bumi yang tetap bertahan tinggi di tengah ketidakpastian global yang masih terus berlanjut terkait kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz.
Beralih ke sektor logam dasar, pergerakan harga komoditas nikel menunjukkan performa yang positif. Berdasarkan laporan data dari London Metal Exchange (LME), harga komoditas nikel ditutup menguat hingga mencapai level USD 16.834 per ton. Kenaikan harga nikel ini tercatat sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan harga penutupan pada hari perdagangan sebelumnya. Penguatan ini memberikan sinyal positif bagi pergerakan industri logam global yang sangat bergantung pada fluktuasi harga di bursa LME.
Tuntut Jaminan US$1,88 Miliar, Paramount Desak Negara Bagian AS Tanggung Biaya Penundaan Merger

Berbeda dengan nikel yang mengalami penguatan, komoditas logam lainnya yaitu timah justru mencatatkan hasil yang kurang memuaskan dan harus mengalami pelemahan. Masih berdasarkan data resmi yang dirilis oleh London Metal Exchange (LME), harga timah bergerak turun dan berada pada angka USD 55.770 per ton. Penurunan ini menunjukkan bahwa harga timah mengalami pelemahan sebesar 0,75 persen jika dibandingkan dengan posisi harga pada hari perdagangan sebelumnya. Pelemahan harga timah ini kontras dengan pergerakan positif yang dialami oleh komoditas nikel, CPO, dan batu bara pada periode perdagangan yang sama.






