Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta di Indonesia resmi mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) baru yang berlaku mulai 1 Agustus 2026. Dalam pengumuman terbaru ini, terdapat kenaikan harga pada jenis bahan bakar tertentu, khususnya solar yang ditawarkan oleh penyedia swasta seperti Shell Indonesia. Langkah penyesuaian ini mencerminkan dinamika pasar minyak global yang terus berubah, sementara operator pelat merah seperti PT Pertamina (Persero) memilih strategi harga yang berbeda untuk lini produk non-subsidi mereka pada periode yang sama.
Berdasarkan data penyesuaian tarif terbaru, Shell Indonesia menetapkan kenaikan harga untuk produk minyak solar mereka. Harga bahan bakar solar Shell naik dari Rp21.340 per liter pada bulan Juli menjadi Rp21.910 per liter mulai tanggal 1 Agustus 2026. Konsumen dapat menemukan produk Shell V-Power Diesel ini di sejumlah SPBU Shell yang tersebar di wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Di sisi lain, jenis bahan bakar Shell lainnya, seperti Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+, dilaporkan masih belum tersedia bagi konsumen sejak awal tahun 2026.
Fluktuasi harga minyak solar di jaringan SPBU Shell ini dilaporkan berjalan selaras dengan pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional. Ketidakpastian pasar global ini dipicu oleh konflik bersenjata dan ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Akibat konflik tersebut, harga solar di SPBU Shell mengalami pergerakan yang sangat signifikan sepanjang tahun ini. Sebagai kilas balik, harga solar Shell tercatat sebesar Rp14.620 per liter pada 1 Maret 2026, lalu melonjak drastis hingga mencapai puncaknya di angka Rp30.890 per liter pada bulan Mei. Setelah itu, tren harga mulai melandai dengan turun ke Rp24.490 per liter pada bulan Juni, menyusut lagi menjadi Rp21.340 per liter pada 1 Juli 2026, hingga akhirnya kembali merangkak naik pada awal Agustus ini.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Sementara SPBU swasta menaikkan harga solar, PT Pertamina (Persero) mengambil kebijakan berbeda dengan mempertahankan harga BBM non-subsidi jenis solar miliknya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini mengumumkan bahwa harga Pertamina Dex dan Dexlite tidak mengalami perubahan sama sekali per 1 Agustus 2026. Untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), harga eceran Dexlite dengan angka setana (CN) 51 tetap stabil di angka Rp19.700 per liter. Demikian pula dengan Pertamina Dex (CN 53) yang harganya tidak bergeser dari level Rp21.150 per liter.
Di luar kategori solar, Pertamina justru menurunkan harga untuk sejumlah varian BBM nonsubsidi jenis bensin (gasoline) mulai awal Agustus 2026. Untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertamax mengalami penurunan dari yang sebelumnya Rp16.250 per liter pada Juli 2026 menjadi Rp15.950 per liter per 1 Agustus 2026. Langkah penurunan harga ini juga diikuti oleh produk Pertamax Green yang turun dari Rp17.000 per liter menjadi Rp16.600 per liter. Selain itu, varian Pertamax Turbo mengalami penurunan harga yang cukup signifikan, yaitu dari Rp19.300 per liter menjadi Rp18.300 per liter.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Adapun untuk kategori bahan bakar yang mendapat subsidi serta BBM penugasan dari pemerintah, harganya dipastikan tidak mengalami perubahan. Pertamina tetap mempertahankan harga Pertalite di angka Rp10.000 per liter, sedangkan untuk Biosolar harganya tetap dipatok sebesar Rp6.800 per liter. Kebijakan ini menjaga stabilitas harga bahan bakar yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas di tengah fluktuasi harga minyak dunia dan penyesuaian harga yang dilakukan oleh para operator SPBU swasta.






