Jumat sore waktu Washington seharusnya menjadi momen lega bagi para perunding perdagangan Eropa. Gedung Putih baru saja mengumumkan tarif baru terhadap Uni Eropa sebesar 10 persen, level yang masih sejalan dengan batas atas yang disepakati dalam Pakta Turnberry. Namun, ketenangan itu hanya bertahan hitungan jam. Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social-nya mengobarkan kembali api konfrontasi: kali ini gara-gara denda lebih dari US$1 miliar yang dijatuhkan Brussels kepada Google.
Kemarahan Trump bukan sekadar reaksi spontan. Sehari sebelumnya, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer sudah melontarkan peringatan keras bahwa keputusan Komisi Eropa menjatuhkan dua denda kepada raksasa pencarian itu—atas tuduhan pelanggaran praktik perdagangan—bisa meracuni hubungan transatlantik. Trump lantas mengamplifikasi pesan itu dengan gaya khasnya. Ia menuduh Uni Eropa telah “merampok” perusahaan-perusahaan Amerika dan menyatakan akan segera memulai investigasi perdagangan terhadap blok 27 negara tersebut. “Uni Eropa akan membayar harga yang sangat mahal atas tindakan ilegal dan sangat tidak etis ini,” tulisnya, seraya menegaskan bahwa sanksi itu harus dibatalkan sepenuhnya dan tarif substansial akan diberlakukan secepat mungkin.
Festival Diskon Jakarta Sumbang Transaksi Rp16,8 Triliun, Mal Kembali Jadi Magnet Belanja

Letupan amarah ini serta-merta mengirim gelombang kejut ke jantung kesepakatan Turnberry, pakta dagang yang diteken Trump dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada musim gugur tahun lalu. Perjanjian itu secara spesifik membatasi tarif AS terhadap ekspor Eropa maksimal 15 persen, menciptakan pagar bagi hubungan dagang yang sebelumnya penuh ketidakpastian. Kenyataan bahwa tarif 10 persen yang diumumkan Kamis lalu dinilai masih “aman” oleh Brussels, kini kehilangan maknanya. Ancaman Trump membuka kemungkinan bahwa pagar itu bisa dirobohkan kapan saja, mengubah rezim tarif menjadi senjata politik yang tak terduga.
Dari sisi Eropa, respons resmi masih tertutup rapat. Juru bicara Komisi Eropa memilih bungkam, menolak memberikan komentar lebih lanjut. Namun suara dari Parlemen Eropa justru jauh lebih keras. Ketua Komite Perdagangan Internasional Bernd Lange memperingatkan bahwa jika Trump benar-benar merealisasikan ancamannya, stabilitas yang telah dibangun melalui negosiasi intensif akan runtuh. “Reaksi ini justru mengguncang stabilitas yang telah dibangun. Ini merupakan upaya memengaruhi kebijakan politik melalui instrumen tarif dan perdagangan,” ucapnya, seolah mengkonfirmasi bahwa Brussels melihat langkah Trump bukan semata-mata persoalan denda antitrust, melainkan sebuah taktik pemaksaan kebijakan berbalut tarif.
Pangan dan Energi Jadi Tiang Kemandirian Indonesia di Tengah Gejolak Dunia

Yang luput dari sorotan adalah bahwa pekan yang sama, Washington juga mengumumkan tarif baru terhadap sejumlah negara berdasarkan Section 301 Trade Act 1974—dengan alasan dugaan penggunaan tenaga kerja paksa dalam rantai pasok. Pola ini menunjukkan Gedung Putih kian nyaman menggunakan instrumen tarif sebagai alat diplomasi koersif. Dalam konteks ini, denda Google hanyalah pemicu; yang sebenarnya dipertaruhkan adalah kedaulatan digital Eropa dan keleluasaan Brussels menegakkan aturan persaingan terhadap raksasa teknologi Amerika. Ancaman Trump bahwa “Amerika Serikat bukan celengan bagi Eropa” menjadi penanda bahwa perang dagang transatlantik bisa memasuki babak baru yang jauh lebih personal dan tidak terduga. Pakta Turnberry yang tadinya menjadi jangkar justru kini berubah menjadi titik paling rawan—satu langkah salah bisa membuat seluruh arsitektur perdagangan yang dirintis dengan susah payah itu benar-benar ambruk.






