Perusahaan operator bandara asal India, GMR Airports Limited (GMR Airports), secara resmi menyatakan ketertarikannya untuk memperluas investasi di sektor kebandarudaraan Indonesia. Langkah ini menunjukkan daya tarik industri penerbangan nasional di mata investor global. Sebagai salah satu operator bandara terkemuka, ketertarikan GMR Airports untuk meningkatkan investasinya di Indonesia diharapkan dapat membuka peluang baru bagi pengembangan infrastruktur udara di berbagai wilayah tanah air.
Langkah ekspansi ini bukanlah hal baru bagi GMR Airports di Indonesia. Sebelumnya, perusahaan asal India tersebut telah bermitra dalam pengembangan Bandara Internasional Kualanamu yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara. Kehadiran GMR Airports dalam proyek strategis ini memperkuat posisinya sebagai mitra internasional yang berkontribusi langsung terhadap modernisasi gerbang udara di wilayah barat Indonesia. Kemitraan ini menjadi landasan penting bagi rencana perluasan investasi mereka ke depan.
Investasi GMR Airports di Indonesia direalisasikan melalui kemitraan strategis dengan PT Angkasa Pura II. Kolaborasi erat antara kedua belah pihak ini diwujudkan melalui pendirian sebuah perusahaan patungan (joint venture) yang diberi nama PT Angkasa Pura Aviasi. Dalam struktur kepemilikan perusahaan patungan tersebut, PT Angkasa Pura II memegang kepemilikan mayoritas dengan porsi saham sebesar 51 persen. Sementara itu, GMR Airports memiliki sisa kepemilikan saham sebesar 49 persen.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Untuk menjalankan operasional dan proyek pengembangan bandara, PT Angkasa Pura Aviasi beroperasi di bawah skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Skema KPBU ini diterapkan guna memastikan pengelolaan bandara berjalan secara profesional dan efisien. Melalui skema ini, sinergi antara badan usaha milik negara dan mitra swasta internasional diharapkan dapat mempercepat peningkatan fasilitas dan layanan kebandarudaraan di Indonesia.
Saat ini, fokus pengembangan diarahkan pada Bandara Internasional Kualanamu di Medan. Terminal penumpang di Bandara Kualanamu saat ini dirancang untuk menampung kapasitas sekitar 8 juta hingga 9 juta penumpang per tahun. Namun, seiring dengan proyeksi pertumbuhan jumlah penumpang di masa depan, pengembangan Bandara Kualanamu akan dilaksanakan secara bertahap yang dibagi ke dalam empat fase. Melalui rencana jangka panjang ini, kapasitas terminal ditargetkan dapat melonjak drastis hingga mencapai 65 juta penumpang per tahun pada tahun 2047.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Secara global, rekam jejak GMR Group dalam pengelolaan infrastruktur udara memang sudah sangat luas. Menurut penjelasan dari Srinivas Bommidala, yang menjabat sebagai Business Chairman International Airports & Energy dari GMR Group, wilayah operasi dan kemitraan perusahaan saat ini telah mencakup beberapa negara di dunia. Jaringan operasional GMR Group tercatat membentang lintas negara, mulai dari India, Indonesia, Filipina, hingga Yunani.
Salah satu portofolio terbaru mereka di negara asal adalah Bandara Internasional Alluri Sitarama Raju, atau yang juga dikenal sebagai Bandara Bhogapuram. Bandara yang terletak di Provinsi Andhra Pradesh, India ini baru saja diresmikan pada hari Sabtu (1/8). Setelah proses peresmian tersebut, Bandara Bhogapuram kini ditargetkan untuk dapat mulai beroperasi secara penuh pada hari Senin mendatang (17/8). Keberhasilan proyek-proyek internasional ini semakin memperkuat optimisme GMR Airports untuk terus memperluas investasinya di sektor bandara Indonesia.






