Fenomena munculnya sejumlah besar udang ke permukaan air hingga naik ke daratan di aliran sungai Kalimantan Selatan baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Peristiwa yang tidak biasa ini memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi lingkungan di wilayah tersebut. Untuk memberikan pemahaman yang jelas dan berbasis ilmiah, Guru Besar Budidaya Perairan IPB University, Prof Sri Nuryati, memberikan tinjauan mendalam mengenai perilaku biota air tersebut.
Menurut Prof Sri Nuryati, perilaku udang yang meninggalkan dasar sungai merupakan sinyal kuat adanya gangguan serius pada habitat alami mereka. Secara alami, udang tergolong sebagai biota akuatik yang bersifat demersal. Artinya, makhluk hidup ini menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di dasar perairan. Ketika udang-udang tersebut mulai bergerak naik ke permukaan bahkan hingga ke daratan, hal itu menandakan bahwa kondisi di dasar air sudah tidak lagi mendukung kelangsungan hidup mereka.
Lebih lanjut, Prof Sri Nuryati menjelaskan bahwa apabila tidak ditemukan gejala klinis penyakit pada tubuh udang yang naik tersebut, maka faktor kualitas lingkungan air menjadi kecurigaan utama. Gangguan di dasar perairan ini biasanya berkaitan erat dengan kadar oksigen terlarut yang berada dalam kondisi kritis. Krisis oksigen di dasar sungai umumnya dipicu oleh akumulasi atau penumpukan bahan organik yang tinggi di area tersebut.
Hubungan Stres dan GERD, Bagaimana Pikiran Memengaruhi Asam Lambung

Proses penguraian bahan organik yang menumpuk ini dilakukan oleh mikroba. Dalam proses dekomposisi tersebut, mikroba membutuhkan oksigen dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, ketersediaan oksigen bagi biota yang hidup di dasar perairan, seperti udang, menjadi sangat menipis dan memicu mereka untuk bermigrasi ke atas guna mencari oksigen. Kondisi ini berbeda dengan ikan yang bersifat pelagis atau hidup di kolom air bagian atas. Ikan pelagis cenderung masih bisa bertahan hidup lebih baik karena lapisan air bagian atas biasanya masih memiliki pasokan oksigen yang lebih memadai dibandingkan dengan lapisan dasar sungai.
Untuk memastikan penyebab pasti dari fenomena ini, Prof Sri Nuryati menyarankan kepada instansi terkait agar segera mengambil langkah nyata. Langkah yang disarankan adalah mengambil sampel air dan sedimen secara langsung dari titik lokasi kejadian. Sampel-sampel tersebut kemudian harus dibawa ke laboratorium untuk menjalani pengujian klinis dan lingkungan guna mendapatkan data yang akurat mengenai parameter kualitas air dan kandungan sedimen di sungai tersebut.
Ramalan Zodiak Pisces dan Aries Selasa, 25 Agustus 2026

Di sisi lain, Provinsi Kalimantan Selatan saat ini juga sedang menghadapi sejumlah tantangan lingkungan dan sosial lainnya. Areal persawahan di provinsi ini dilaporkan sedang mengalami kekeringan yang cukup parah dan terancam mengalami gagal panen atau puso akibat dampak musim kemarau yang panjang. Guna mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel berencana segera melakukan pembasahan kembali atau rewetting pada lahan-lahan gambut yang kritis untuk mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan yang lebih besar.
Selain masalah kekeringan, infrastruktur di Kalimantan Selatan juga mengalami kendala. Jalan Martapura Lama Km 5,5 yang terletak di Sungai Lulut dilaporkan ambles akibat terkikis oleh erosi sungai. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel kini tengah mempertimbangkan opsi penutupan total jalur tersebut selama masa perbaikan yang diperkirakan memakan waktu satu bulan. Sementara itu, di tengah berbagai tantangan ini, agenda daerah tetap berjalan, salah satunya adalah peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Provinsi Kalsel yang dipusatkan di Gedung Idham Khalid, Banjarbaru, pada Kamis (23/7) yang dihadiri oleh ratusan anak.






