Eskalasi Geopolitik Global Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Usat NgajiPublished 27 Jul 2026 - 10.351 Reads
Bagikan WhatsAppX
Eskalasi Geopolitik Global Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan
Foto/Ilustrasi: ekonomi.republika.co.id.
A-A+

Eskalasi konflik geopolitik global yang kian memanas di berbagai belahan dunia kini kembali membayangi pergerakan instrumen investasi aman atau safe haven. Pasar keuangan global tengah bersiap menghadapi fluktuasi tajam, terutama pada komoditas emas dan minyak mentah. Menurut proyeksi pengamat pasar, ketegangan militer yang meluas dari Timur Tengah hingga perairan Kaspia diprediksi akan menyeret harga logam mulia domestik ke dalam rentang pergerakan yang cukup lebar pada pekan depan, yakni berkisar antara Rp 2,44 juta hingga Rp 2,74 juta per gram.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa harga emas batangan di dalam negeri ditutup pada level Rp 2,62 juta per gram pada akhir pekan lalu, sementara emas dunia parkir di posisi 4.053 dolar AS per troy ons. Jika tensi geopolitik mereda dan memicu koreksi teknikal, harga emas berpotensi turun ke level dukungan atau support pertama di Rp 2,59 juta per gram (3.968 dolar AS per troy ons) hingga batas bawah kedua di Rp 2,44 juta per gram (3.871 dolar AS per troy ons). Sebaliknya, apabila eskalasi memicu kecemasan pasar, harga emas berpeluang melesat menuju level resistansi pertama di Rp 2,63 juta per gram (4.148 dolar AS per troy ons) dan berpotensi menembus Rp 2,74 juta per gram (4.240 dolar AS per troy ons).

Also Read

Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga Bawang Putih hingga Indonesia Timur

Pergerakan emas ini juga akan berjalan beriringan dengan fluktuasi indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia. Indeks dolar AS yang ditutup pada level 101,47 di akhir pekan diproyeksikan bergerak di rentang 100,40 hingga 102,40 pada pekan depan, menunjukkan potensi kenaikan sebesar dua poin. Di sisi lain, harga minyak mentah jenis WTI yang saat ini berada di level 89,30 dolar AS per barel diperkirakan akan berfluktuasi cukup lebar dalam kisaran 82,60 hingga 102,80 dolar AS per barel. Dinamika harga komoditas energi ini menjadi salah satu motor penggerak inflasi global yang paling diwaspadai saat ini.

Ketidakpastian pasar ini dipicu oleh meluasnya titik-titik konflik bersenjata secara global. Di Timur Tengah, kelompok Houthi asal Yaman yang bersekutu dengan Iran dilaporkan melancarkan serangan udara ke salah satu bandara di Arab Saudi. Sementara di wilayah utara, konflik Rusia-Ukraina merembet ke perairan baru setelah militer Ukraina dikabarkan menyerang kapal pengangkut senjata Rusia menuju Iran di Laut Kaspia. Meskipun sempat terjadi jeda ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, pihak Teheran tetap dalam kondisi siaga penuh mengantisipasi kemungkinan serangan udara sporadis selama hampir dua pekan berturut-turut dari militer AS.

Also Read

Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Komponen Pesawat dan LPG untuk Stimulus Industri

Dampak dari ketegangan geopolitik ini tidak hanya dirasakan di medan tempur, melainkan langsung merembet ke sektor ekonomi riil Amerika Serikat melalui lonjakan harga minyak mentah global. Ketika harga minyak jenis Brent sempat melampaui 100 dolar AS per barel, Washington terpaksa menahan diri dari konfrontasi militer langsung dengan Iran demi mencegah lonjakan inflasi lebih lanjut akibat kenaikan harga bahan bakar dan avtur. Situasi ekonomi domestik AS yang sensitif ini diperkirakan akan menjadi komoditas politik yang panas menjelang pemilu sela pada November 2026. Partai Demokrat diprediksi akan memanfaatkan isu inflasi dan tingginya harga energi sebagai senjata politik utama untuk menekan pemerintahan Donald Trump dalam perebutan kursi parlemen mendatang.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca