Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan konsumsi LPG 3 kg hingga akhir tahun 2026 akan melampaui kuota yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Penyaluran gas bersubsidi ini diperkirakan mencapai 8,677 juta ton, atau setara dengan 108,46 persen dari kuota awal sebesar 8 juta ton.
Proyeksi lonjakan konsumsi tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang dipantau dari Badung, Bali, pada Rabu (26/8/2026), Laode mengonfirmasi bahwa prognosis kebutuhan LPG 3 kg untuk tahun ini memang berada di angka 8,6 juta ton.
Hingga bulan Juli 2026, realisasi penyaluran LPG 3 kg tercatat telah menyentuh angka 5,05 juta ton dari kuota 8 juta ton. Dengan sisa waktu yang ada, laju konsumsi diperkirakan akan terus meningkat hingga melampaui batas kuota yang telah ditetapkan pemerintah.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Distribusi Terbuka dan Proyeksi RAPBN 2027
Laode menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi LPG 3 kg ini sejalan dengan tren kenaikan yang terjadi dari tahun ke tahun. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah metode pendistribusian yang masih bersifat terbuka. Dengan sistem tersebut, siapa saja masih dapat membeli LPG 3 kg secara bebas di pasar.
Tingginya permintaan ini diperkirakan tidak hanya terjadi pada tahun ini. Untuk tahun 2027, proyeksi konsumsi LPG 3 kg diperkirakan bisa lebih tinggi lagi dibandingkan dengan proyeksi tahun 2026.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Guna mengantisipasi tren kenaikan tersebut, pemerintah telah menyesuaikan alokasi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Dalam RAPBN 2027, kuota volume LPG 3 kg diusulkan sebesar 8,9 juta ton. Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kuota yang sebelumnya ditetapkan dalam APBN 2026.






