Nilai ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya dari Indonesia mencatatkan angka 4,69 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Februari 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pencapaian tersebut mengalami peningkatan sebesar 26,40 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka 3,71 miliar dolar AS. Lonjakan ini sejalan dengan peningkatan volume ekspor CPO dan turunannya yang naik dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton. Di tengah penguatan kinerja pasar internasional ini, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menekankan pentingnya menjaga produktivitas hulu melalui peremajaan kebun rakyat.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menilai bahwa peningkatan produktivitas petani plasma dan swadaya menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan pasokan minyak sawit nasional secara berkelanjutan. Peran industri kelapa sawit terbukti krusial karena telah berulang kali menjadi penyangga utama perekonomian nasional sewaktu menghadapi tekanan ekonomi. Sebagai gambaran, pada masa pandemi lalu, perolehan devisa dari sektor kelapa sawit mencapai sekitar 39,2 miliar dolar AS. Sektor ini juga tetap membuka peluang kesempatan kerja baru ketika sektor-sektor industri lain tengah menghadapi krisis dan melakukan pemutusan hubungan kerja.








