Bank Indonesia (BI) secara resmi memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026. Selain menetapkan suku bunga acuan utama tersebut, bank sentral juga memutuskan untuk menahan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75%, serta suku bunga Lending Facility di level 6,50%. Keputusan mempertahankan tingkat suku bunga ini menuai apresiasi dari kalangan ekonom, yang menilai langkah tersebut sebagai strategi yang tepat untuk menjaga stabilitas moneter sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Langkah yang diambil oleh Bank Indonesia ini tergolong menarik karena berada di luar ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Sebelumnya, konsensus dan ekspektasi pasar memperkirakan adanya kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00% pada pertemuan bulan Juli 2026. Keputusan untuk menahan suku bunga ini diambil setelah bank sentral melakukan langkah agresif dengan mengakumulasikan kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 100 bps sepanjang bulan Mei hingga Juni 2026. Kebijakan penahanan ini juga dilakukan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, salah satunya dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sempat mendorong harga minyak mentah dunia melonjak hingga di atas US$ 90 per barel.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memaparkan analisisnya mengenai arah kebijakan moneter ini ke depan. Dalam skenario dasar (baseline scenario) yang dirancang oleh timnya, Bank Indonesia diproyeksikan akan terus mempertahankan BI-Rate di level 5,75% hingga pengujung tahun 2026. Namun demikian, ia juga mengingatkan adanya faktor ketidakpastian global yang bisa mengubah arah kebijakan tersebut. Apabila kondisi makroekonomi memburuk secara signifikan, Josua menyebutkan bahwa dalam skenario negatif, BI-Rate memiliki potensi untuk dikerek naik hingga menyentuh level 6,50%.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Optimisme senada juga diungkapkan oleh Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (Persero), Myrdal Gunarto. Menurut pandangannya, keputusan BI untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini akan memberikan stimulus positif bagi aktivitas dunia usaha di tanah air. Dengan kebijakan moneter yang tetap akomodatif ini, Myrdal memperkirakan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang tumbuh lebih agresif di atas level 5,15% sepanjang tahun ini. Langkah ini dinilai sejalan dengan komitmen Bank Indonesia dalam mengendalikan laju inflasi nasional agar tetap berada dalam sasaran target sebesar 2,5卤1% untuk periode tahun 2026 dan 2027.
Kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional juga tecermin dari stabilnya berbagai indikator makro. Lembaga pemeringkat internasional S&P baru-baru ini mempertahankan peringkat kredit (credit rating) Indonesia dengan prospek (outlook) yang stabil. Dari sisi nilai tukar, mata uang rupiah menunjukkan kinerja yang cukup baik dengan mencatatkan penguatan ke posisi Rp17.885 per dolar AS pada tanggal 21 Juli 2026.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Selain penguatan nilai tukar rupiah, pasar modal Indonesia juga masih menunjukkan daya tarik yang kuat bagi para pemodal global. Hal ini terlihat dari data transaksi di mana investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) dengan nilai akumulasi mencapai US$ 110,90 juta di pasar saham dalam negeri sepanjang periode 16 hingga 21 Juli 2026. Masuknya aliran modal asing ini memberikan tambahan likuiditas dan memperkuat stabilitas sektor keuangan domestik di tengah fluktuasi pasar global yang dinamis.






