Nigeria, sebuah negara di wilayah Afrika Barat, kini mengalami perubahan besar dalam lanskap industri minyak sawitnya. Wilayah yang dahulu mendominasi pasar minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global tersebut kini kehilangan taji. Negara ini harus mengubah statusnya dari eksportir utama menjadi importir demi memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Perubahan ini menjadi sorotan mengingat sejarah panjang Nigeria di pasar kelapa sawit dunia.
Pada masa kejayaannya, Nigeria merupakan salah satu pemasok terbesar dengan menguasai pangsa pasar dan memasok sekitar 43 persen minyak sawit dunia. Namun, kontribusi Nigeria terhadap pasokan CPO global kini merosot drastis hingga hanya tersisa sekitar 2 persen. Penurunan yang sangat signifikan ini menunjukkan pergeseran besar yang membuat posisi Nigeria terpuruk di pasar internasional.
Ketimpangan antara produksi lokal dan tingkat konsumsi menjadi penyebab utama perubahan status Nigeria menjadi negara importir. Saat ini, kebutuhan minyak sawit di Nigeria mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun. Di sisi lain, kapasitas produksi nasional negara tersebut baru berada di kisaran 1,5 juta ton. Untuk menutupi selisih atau defisit yang mencapai lebih dari satu juta ton tersebut, Nigeria harus mengimpor minyak sawit dari Malaysia, Indonesia, dan negara produsen lainnya.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Ketergantungan terhadap impor ini menuntut biaya yang tidak sedikit. Berdasarkan laporan dari UN Comtrade, Nigeria menghabiskan sekitar US$155 juta untuk mengimpor minyak sawit sepanjang tahun 2024. Kondisi produksi dalam negeri Nigeria juga dipengaruhi oleh fakta bahwa sekitar 80 persen produksi sawit di sana masih dikelola oleh petani kecil. Para petani ini mengelola tanaman semi-liar dengan metode panen dan pengolahan yang masih tradisional. Tantangan di sektor ini menjadi perhatian bagi organisasi petani setempat, seperti Oil Palm Growers Association of Nigeria (OPGAN) yang dipimpin oleh Joe Onyiuke selaku Presiden OPGAN.
Kondisi yang dialami Nigeria sangat kontras dengan perkembangan industri sawit di Malaysia. Malaysia telah sukses memantapkan posisinya sebagai salah satu pemain utama di pasar global. Pada tahun 2025, Malaysia berhasil memproduksi sekitar 20,28 juta ton minyak sawit. Dari total produksi tersebut, Malaysia mengekspor minyak sawit ke lebih dari 150 negara di berbagai belahan dunia.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Keberhasilan ekspor ini memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi Malaysia. Industri sawit tercatat menyumbang sekitar US$27,5 miliar devisa ekspor bagi Malaysia pada tahun 2025. Jumlah tersebut menyumbang sekitar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Selain menyumbang devisa, sektor kelapa sawit di Malaysia juga menjadi pilar lapangan kerja dengan menopang sekitar tiga juta pekerjaan melalui perkebunan, industri pengolahan, logistik, hingga produk hilir berbasis sawit.
Untuk memperluas kolaborasi industri dengan pelaku usaha setempat, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) yang kini dipimpin oleh Belvinder Sron selaku Chief Executive Officer (CEO), telah mengambil langkah strategis. MPOC mendirikan kantor perwakilan resmi di Lagos, Nigeria. Langkah ini mempererat hubungan dagang kedua negara, di mana Malaysia tercatat telah mengekspor sekitar 300 ribu ton minyak sawit beserta produk turunannya ke Nigeria dalam kurun waktu satu tahun terakhir.






