Duel Sunyi di Gamalama dan Pelajaran tentang Kecermatan

Uria Anyi ApuiPublished 26 Jul 2026 - 15.25 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Duel Sunyi di Gamalama dan Pelajaran tentang Kecermatan
Foto/Ilustrasi: news.detik.com.
A-A+

Ballroom Gamalama di Hotel Bella, Kota Ternate, pada Jumat siang itu tidak sekadar menjadi saksi adu cepat pengetahuan. Di balik keriuhan yel-yel penyemangat, berlangsung sebuah duel sunyi yang menguras daya nalar dan ketahanan mental tiga regu terbaik pelajar Maluku Utara. SMAN 8 Kota Ternate akhirnya keluar sebagai pemenang dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat provinsi, menyegel satu tiket menuju panggung nasional di Jakarta pada Agustus mendatang. Namun, kemenangan itu tidak datang dari sekadar hafalan teks konstitusi, melainkan dari kemampuan mengelola kepanikan di bawah tekanan.

Perjalanan menuju podium juara bukanlah rute yang mulus. Gunardi Ode Samura, salah satu punggawa tim SMAN 8, mengakui bahwa sempat terbersit rasa pesimistis ketika berhadapan dengan SMAN 2 Halmahera Timur dan SMKN 1 Kota Ternate di babak puncak. Intensitas pertarungan membuat setiap selisih poin terasa seperti jurang. Namun, di titik nadir itulah, strategi bertahan dan menyerang secara presisi menemukan momentumnya. Faudjiah Fatmona, guru pembina mereka, telah menanamkan lebih dari sekadar materi Empat Pilar dan Ketetapan MPR; ia membangun sebuah ritme disiplin belajar yang membuat para siswa tidak mudah limbung. Proses intensif itu membentuk memori otot kognitif yang bekerja otomatis saat soal-soal sulit menghujani babak final.

Also Read

Dari Mushala ke Kelas Baru, Babak Pemulihan SDN Tanggirejo yang Dinanti

Di luar persaingan antar sekolah, perlombaan ini menyuguhkan tontonan menarik tentang bagaimana sebuah even pendidikan mengelola tensi. Sebuah insiden protes dari salah satu peserta pada sesi rebutan babak penyisihan ketiga menjadi ujian nyata transparansi. Alih-alih meredamnya dengan otoritas, panitia bersama dewan juri justru membuka rekaman ulang di hadapan perwakilan peserta dan Dinas Pendidikan. Momen ini menjadi pertaruhan kredibilitas: bahwa mencari juara tidak boleh mengorbankan rasa keadilan. Langkah itu meredakan gejolak dan membuktikan bahwa lomba ini tidak hanya mengajarkan teori berbangsa kepada para siswa, tetapi juga mempraktikkan langsung prinsip musyawarah dan kejujuran.

Di tengah riuh rendah kompetisi, Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, yang akrab disapa Ibu Titi, menyelipkan sebuah wejangan yang tampaknya sederhana tetapi fundamental. Ia menyoroti bahwa kecerdasan seringkali terkalahkan oleh ketergesa-gesaan. Banyak peserta yang otaknya cemerlang justru kehilangan poin karena mendahului akhir pembacaan soal. “Di sinilah pentingnya cermat, bukan hanya cerdas,” ujarnya, menekankan bahwa menyimak hingga titik terakhir adalah bentuk penghormatan terhadap proses komunikasi. Pesan ini menjadi antitesis dari budaya instan yang kerap menjangkiti generasi muda; mengingatkan bahwa memahami konteks lebih berharga daripada sekadar menjadi yang tercepat.

Also Read

Jejak Pelarian Maling Motor Penembak Ojek Berujung di Rumah Sunyi Lampung Timur

Kehadiran Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe yang turut membacakan soal di babak penyisihan, serta apresiasi untuk yel-yel terbaik bagi SMAN 1 Tidore Kepulauan, SMAN 1 Pulau Taliabu, dan SMKN 1 Kota Ternate, menunjukkan bahwa kompetisi ini ingin merangkul banyak sisi kecerdasan. Tidak hanya logika verbal, tetapi juga kreativitas dan semangat kolektif. Kini, mata tertuju pada langkah SMAN 8 Kota Ternate selanjutnya. Mereka akan membawa nama Maluku Utara ke Jakarta, bukan hanya dengan bekal pengetahuan, tetapi dengan pelajaran berharga bahwa dalam pertarungan ide, ketenangan dan ketelitian adalah senjata pamungkas yang seringkali terlupakan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca