Dua Arteri Minyak Dunia Dibayangi Serangan Serempak, Harga Brent Tembus 100 Dolar

Andi TobanPublished 26 Jul 2026 - 09.36 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Dua Arteri Minyak Dunia Dibayangi Serangan Serempak, Harga Brent Tembus 100 Dolar
Foto/Ilustrasi: finance.detik.com.
A-A+

Harga minyak mentah Brent menyentuh level psikologis US$100 per barel pada Kamis (23/7), seolah menjadi alarm bagi rapuhnya urat nadi energi global. Lonjakan itu bukan semata reaksi pasar terhadap satu bara konflik, melainkan akumulasi tekanan yang nyaris bersamaan di dua jalur pelayaran minyak paling strategis: Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb di Laut Merah. Ketika dua gerbang laut yang mengalirkan hampir seperlima perdagangan minyak dunia sama-sama membara, rantai pasok langsung terguncang.

Di kawasan Teluk, Iran secara sistematis meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di dalam maupun di sekitar Selat Hormuz sepanjang bulan ini. Catatan Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan bahwa sejak 1 Maret, tidak kurang dari 61 kapal dagang menjadi sasaran di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Eskalasi tersebut telah merenggut nyawa 17 pelaut dan melukai puluhan lainnya. Gangguan ini bukan aksi acak, melainkan bagian dari perang ekonomi yang bertujuan merebut kendali atas jalur vital dan membatasi ruang gerak lawan.

Also Read

Investasi Manusia, Kunci Industri dari Sekolah Vokasi

Di saat yang sama, sekutu Iran, Houthi di Yaman, menyebar ancaman di ujung selatan Laut Merah. Kelompok itu menembaki dua kapal tanker Arab Saudi tak lama setelah menyatakan embargo maritim terhadap Riyadh. Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, mendadak menjadi titik rawan baru. Dimitris Maniatis, CEO layanan risiko maritim Marisks, menyebut bahwa Iran dan Houthi secara bersama-sama menghantam kepentingan Amerika Serikat, perusahaan minyak AS, dan Arab Saudi. “Namun mereka tidak berhasil sepenuhnya menekan ekspor,” ujarnya kepada CNBC, Sabtu (25/7), menandakan bahwa tekanan masih bersifat terukur meskipun terus melebar.

Kompleksitas bertambah karena perang bayangan di Laut Hitam dan Laut Azov juga merusak peta perdagangan energi. Ukraina mengklaim telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker, kargo, dan kapal lain yang terafiliasi dengan armada bayangan Rusia. Armada gelap yang biasa menyamarkan asal muasal minyak itu kini diburu, membuat kapasitas logistik Moskow keropos. Helima Croft, kepala strategi komoditas global, menyebut bahwa pasar minyak saat ini sedang menghadapi “perang di berbagai lini.”

Also Read

El Nino dan Perang Gerus Produksi Beras Dunia, Turun Pertama Kali dalam 11 Tahun

Di lain pihak, tekanan terhadap pasokan semakin kencang setelah Rusia memberlakukan larangan ekspor produk olahan. Kilang-kilang pengolahan Negeri Beruang Merah, yang selama ini menjadi pemasok utama diesel dunia, terpukul berat akibat serangan-serangan Ukraina. “Rusia adalah salah satu pengekspor produk dan diesel terbesar. Hal ini benar-benar memperketat pasar produk sekaligus pasar minyak mentah,” jelas Croft. Kedua konflik yang tadinya terpisah kini bertumpuk: ketegangan di sepanjang Hormuz–Bab el-Mandeb menyesaki jalur pasokan, sementara gangguan di Laut Hitam mengikis kapasitas produsen utama. Hasilnya adalah gejolak harga yang tak hanya muncul dari ketakutan sesaat, tetapi dari ketidakpastian yang menggerogoti fondasi perdagangan energi global.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca