Sebuah rekaman video memilukan yang memperlihatkan seorang bocah perempuan menangisi jenazah ayahnya di tengah kerumunan warga sempat menjadi sorotan tajam di media sosial. Bocah tersebut terus memanggil sang ayah yang sudah terbujur kaku. Sang ayah, pria berinisial KD, meregang nyawa akibat menjadi korban aksi main hakim sendiri di Tabanan, Bali. Tragedi ini bermula dari tuduhan pencurian ayam yang dialamatkan kepada KD, yang kemudian berujung pada pengeroyokan brutal hingga korban tewas. Peristiwa tragis ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan yang mengecam tindakan kekerasan massal tersebut.
I Made Sutama, selaku Perbekel Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, menjadi salah satu pihak yang paling terpukul dengan insiden ini. Sebagai pemimpin wilayah asal korban, Sutama menceritakan bagaimana pilunya situasi saat ia menjemput jenazah KD. Korban meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang kini harus kehilangan tulang punggung keluarga. Anak sulung KD sudah membangun rumah tangga sendiri, sedangkan dua anak lainnya masih sangat membutuhkan biaya pendidikan. Anak kedua saat ini duduk di bangku kelas satu SMA, sementara si bungsu yang menangis histeris dalam video viral tersebut baru menginjak kelas satu SD.
Golfphoria 2026 Mengubah Wajah Golf Bali Melalui Festival dan Misi Sosial

Sutama sangat menyesalkan tindakan brutal warga yang memilih jalan kekerasan alih-alih menyerahkan terduga pelaku kepada pihak berwajib. Ia menegaskan bahwa segala bentuk dugaan tindak pidana seharusnya diselesaikan melalui koridor hukum yang sah, bukan dengan kekerasan yang merenggut nyawa. Baginya, hilangnya nyawa seseorang hanya karena dugaan pencurian ayam adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang tidak dapat ditoleransi. Pihak keluarga korban sendiri kini telah mengikhlaskan kepergian KD sebagai musibah, namun mereka menuntut keadilan dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat kepolisian.
Kasus ini tidak hanya menjadi perhatian warga lokal, tetapi juga menarik perhatian tingkat nasional. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, turut angkat bicara dan mengecam keras aksi pengeroyokan tersebut. Andi Gani mendesak Kapolres Tabanan beserta jajarannya untuk bertindak cepat dan mengusut tuntas kasus ini secara hukum. Menurutnya, meskipun pencurian merupakan tindakan melanggar hukum, aksi main hakim sendiri yang menyebabkan kematian juga merupakan pelanggaran hukum berat yang tidak boleh dibiarkan. Ia juga mengingatkan kepolisian untuk mencegah adanya potensi aksi balas dendam yang bisa memperkeruh situasi.
Komnas HAM Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan Terduga Pencuri Ayam di Bali

Sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap keluarga yang ditinggalkan, Andi Gani telah menginstruksikan jajarannya untuk menemui keluarga KD di Bali. Langkah ini diambil untuk memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak korban yang masih bersekolah agar masa depan mereka tidak terputus akibat tragedi ini. Melalui bantuan ini, diharapkan beban psikologis dan finansial yang dialami keluarga dapat sedikit diringankan. Penuntasan kasus ini secara hukum kini menjadi ujian penting bagi aparat kepolisian di Bali untuk membuktikan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, sekaligus menghentikan budaya main hakim sendiri di tengah masyarakat.






