apriniageosat.co.id
BerandaNasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialEkonomiOlahragaHiburanPolitikPendidikanKriminalLingkunganTeknologiOtomotifInternasionalGeneral NewsEconomyNewsSportsPopuler
Beranda/Ekonomi

Deflasi Juli 2026 Sebesar 0,14 Persen, Pasokan Pangan Melimpah atau Daya Beli Melemah?

Andi TobanDiterbitkan 5 Agu 2026 - 02.50 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Deflasi Juli 2026 Sebesar 0,14 Persen, Pasokan Pangan Melimpah atau Daya Beli Melemah?
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai perkembangan indeks harga konsumen di Indonesia. Berdasarkan catatan BPS, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Meskipun mencatatkan deflasi secara bulanan, kondisi inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) di tingkat nasional justru menyentuh angka 2,88 persen. Pergerakan angka-angka ini memicu berbagai analisis mengenai kondisi ekonomi riil masyarakat saat ini, khususnya terkait apakah penurunan harga barang terjadi akibat pasokan yang melimpah atau karena melemahnya daya beli masyarakat.

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialEkonomiOlahragaHiburanPolitikPendidikanKriminalLingkunganTeknologiOtomotifInternasionalGeneral NewsEconomyNewsSports

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
Jika dicermati lebih dalam, pendorong utama dari terjadinya deflasi pada Juli 2026 ini adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok pengeluaran ini mengalami deflasi sebesar 0,89 persen dan memberikan andil yang signifikan terhadap deflasi nasional, yaitu sebesar 0,26 persen. Di dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau tersebut, terdapat sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi. Komoditas bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,11 persen. Disusul kemudian oleh cabai merah dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen. Selain itu, komoditas telur ayam ras dan tomat juga turut menyumbang andil deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen, serta jeruk dengan andil deflasi sebesar 0,02 persen.

Meskipun kelompok pangan mengalami penurunan harga yang cukup tajam, indikator makroekonomi lainnya menunjukkan pergerakan yang berbeda. Sebagai contoh, inflasi inti terpantau masih mengalami pertumbuhan sebesar 0,14 persen secara bulanan pada periode Juli 2026 tersebut. Di samping itu, tingkat kesejahteraan petani yang diukur melalui indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 juga mencatatkan kenaikan hingga mencapai level 127,84. Perbedaan arah pergerakan antara harga pangan yang mengalami deflasi bulanan dengan inflasi inti yang tetap tumbuh mencerminkan adanya dinamika pasar yang tidak seragam di berbagai sektor ekonomi.

Baca Juga

Simpanan Jumbo di Atas Rp5 Miliar Melonjak 15,44 Persen, LPS Soroti Kemampuan Menabung Masyarakat

Simpanan Jumbo di Atas Rp5 Miliar Melonjak 15,44 Persen, LPS Soroti Kemampuan Menabung Masyarakat

Di sisi lain, perhatian terhadap daya beli masyarakat kian mengemuka seiring dengan adanya tekanan di sektor ketenagakerjaan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Ketenagakerjaan, tercatat ada sebanyak 32.389 pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di seluruh Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Salah satu kasus pemutusan hubungan kerja yang cukup signifikan terjadi di wilayah Morowali Utara, di mana PT GNI dilaporkan merumahkan sebanyak 1.900 pekerja lokal. Banyaknya jumlah pekerja yang kehilangan mata pencaharian ini tentu menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pendapatan rumah tangga yang pada akhirnya dapat menekan tingkat konsumsi masyarakat.

Tantangan ekonomi domestik juga diwarnai oleh adanya ketimpangan laju inflasi antarwilayah di Indonesia. Ketimpangan ini terlihat jelas dari disparitas angka inflasi tahunan yang terjadi di beberapa daerah pada tingkat provinsi. Sebagai contoh, laju inflasi tahunan di wilayah Papua Barat tercatat menyentuh angka yang cukup tinggi, yakni sebesar 5,47 persen. Sebaliknya, di wilayah Papua Selatan, laju inflasi tahunan terpantau jauh lebih rendah dan hanya berada di angka 1,46 persen. Perbedaan angka inflasi yang mencolok antarprovinsi ini memperlihatkan adanya tantangan yang nyata dalam upaya menjaga stabilitas harga secara merata di seluruh penjuru tanah air.

Baca Juga

Aksi Tanker Transko Arafura Menyelamatkan 17 Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2

Aksi Tanker Transko Arafura Menyelamatkan 17 Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2

Selain tantangan di sisi konsumen dan ketenagakerjaan, tekanan ekonomi juga dirasakan pada tingkat produsen. Indeks Harga Produsen (IHP) pada kuartal II 2026 mengalami lonjakan sebesar 5,62 persen secara tahunan (year-on-year). Kenaikan IHP ini mengindikasikan adanya peningkatan biaya produksi yang harus ditanggung oleh para pelaku usaha. Ketika biaya di tingkat produsen terus meningkat di tengah kondisi harga konsumen yang mengalami deflasi bulanan, margin keuntungan para pelaku usaha berpotensi tertekan. Situasi ini tentu memerlukan perhatian serius agar tidak mengganggu keberlangsungan operasional dunia usaha dan stabilitas ekonomi nasional secara jangka panjang.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

PHKBPSEkonomi Indonesiadeflasi

Berita Terbaru Lainnya

Simpanan Jumbo di Atas Rp5 Miliar Melonjak 15,44 Persen, LPS Soroti Kemampuan Menabung MasyarakatAksi Tanker Transko Arafura Menyelamatkan 17 Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2Kebakaran Hutan di Blok Bantengan Bromo, Tiga Akses Wisata Ditutup SementaraBanjir Rendam Tiga Kecamatan di Kota Padang, Tim Gabungan Evakuasi Warga dengan PerahuKPK Hentikan Penyidikan Enam Kasus Korupsi, Dewas Soroti Keterlambatan Laporan SP3Kebakaran Lahan Melanda Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir, 22 Hektare HangusDokter Tifa Ajukan Permohonan Praperadilan ke PN Jakarta SelatanPolda Metro Jaya Selidiki YouTuber Bigmo Terkait Dugaan Libatkan Anak Promosikan Vape

Paling Banyak Dibaca

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTU

General News

Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTU

29 Jul 2026

Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas Bawah

Ekonomi

Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas Bawah

26 Jul 2026

Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Negara

Ekonomi

Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Negara

1 Agu 2026

Indosat Catat Laba Bersih Rp 3,2 Triliun pada Semester I 2026 Berkat Transformasi AI

Teknologi

Indosat Catat Laba Bersih Rp 3,2 Triliun pada Semester I 2026 Berkat Transformasi AI

29 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan 路 25 Jul 2026
  2. 2Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum 路 27 Jul 2026
  3. 3Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTUGeneral News 路 29 Jul 2026
  4. 4Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas BawahEkonomi 路 26 Jul 2026
  5. 5Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana NegaraEkonomi 路 1 Agu 2026
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap