Dari Sungai Lolipop Stroberi ke Panggung Spontan, Ketika Dongeng Menjadi Guru Terbaik untuk Anak

Nyaring AranPublished 25 Jul 2026 - 23.35 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Dari Sungai Lolipop Stroberi ke Panggung Spontan, Ketika Dongeng Menjadi Guru Terbaik untuk Anak
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Di tengah hiruk-pikuk akhir pekan, sebuah sudut ruang publik di kawasan Gelora Bung Karno berubah menjadi laboratorium imajinasi. Bukan sekadar panggung hiburan, sesi mendongeng yang disuguhkan di ajang tahunan bagi anak dan keluarga pada Sabtu (25/7) itu lebih menyerupai ruang kelas tanpa dinding. Dua sosok dengan latar belakang kontras—seorang kreator konten kecantikan dan seorang penulis lintas generasi—berbagi mikrofon yang sama. Tasya Farasya dan Reda Gaudiamo hadir bukan untuk berdeklamasi, melainkan menuntun anak-anak menyelami dua alam cerita yang berbeda, namun bertemu dalam satu muara: menumbuhkan keberanian dan kepekaan sosial.

Tasya, yang karib disapa Memong, memilih sebuah kisah rekaan tentang asal-usul Sungai Lolipop Stroberi. Dengan tokoh Alpie, Moo Moo, dan sekelompok warga kampung, ia membangun narasi perjuangan kolektif. Jalan menuju kenikmatan manis sungai itu tidak serta-merta mulus; cerita menyajikan serangkaian rintangan yang hanya bisa ditaklukkan melalui gotong royong. Alih-alih menggurui, Tasya melontarkan kalimat-kalimat pendek yang mengundang sahutan. Anak-anak yang duduk bersila di depan panggung menjadi bagian dari kisah itu sendiri, seolah ikut mendorong sampan imajiner di atas aliran stroberi. Setiap kerutan wajah dan tangan yang bergerak lincah sang pendongeng memantik gelombang tawa dan decak kagum. Sebuah kalimat penutup dari Tasya—yang intinya menegaskan bahwa kerja sama mengantarkan pada kenikmatan bersama—mendarat ringan tanpa terasa seperti nasihat wajib.

Also Read

Sulap Malam Dingin Bromo, Kevin Yosua Big 6 ft. Nesia Ardi Pukau Penonton Jazz Gunung

Ketika gelombang energi dari Sungai Lolipop Stroberi mulai mereda, panggung yang sama lantas diisi oleh Reda Gaudiamo. Jika Tasya membawa manisnya fantasi, Reda menyuntikkan kehangatan keseharian lewat tiga fragmen dari bukunya Na Willa dan Rumah Dalam Gang: “Pak”, “Bedak”, dan “Gatot”. Sosok yang kembali akrab di publik lewat film Na Willa ini tidak sekadar berdiri membaca. Ia justru membalikkan hierarki antara pembaca dan pendengar. Separuh jalannya dongeng berpindah ke tangan tiga anak bernama Bella, Alesha, dan Rita yang naik ke panggung. Mereka bergantian membacakan paragraf dengan suara polos masing-masing, sementara Reda mendampingi bagai konduktor yang membiarkan solis ciliknya berimprovisasi. Metode ini sontak mencairkan sekat antara seniman dewasa dan penonton belia. Anak-anak lain yang tetap duduk di depan pun tidak sekadar menyimak, tetapi bereaksi: beberapa menimpali, tertawa, bahkan melontarkan tebakan cerita.

Menyandingkan dua penampilan ini ibarat mengamati dua sisi mata uang dongeng modern. Di satu sisi, Tasya membuktikan bahwa seorang figur publik dengan jutaan pengikut di dunia digital bisa memakai pengaruhnya untuk menularkan pesan kesalingan. Ia mengemas nilai berbagi dan ketekunan dalam bungkus surealisme stroberi yang gampang dicerna balita. Di sisi lain, Reda menjahit benang realisme lewat lakon sehari-hari yang dekat dengan pengalaman anak-anak urban. Ia mempraktikkan sebuah metode langka: mengalihkan kendali bercerita kepada anak. Tindakan itu secara implisit menanamkan kepercayaan diri, literasi, dan rasa memiliki terhadap buku. Pertemuan dua pendekatan ini—fantasi kolaboratif dan partisipatoris—membuat sesi dongeng tak ubahnya laboratorium keterampilan abad ke-21 yang menyenangkan.

Also Read

Barcode dan Alternate Shoot di Kejurnas Junior 2026, Pemanasan Menuju Panggung Dunia

Puncak sesi diwarnai pemberian hadiah kepada ketiga anak yang menjadi pembaca dadakan. Teriakan riuh dan tepuk tangan memenuhi area, bukan hanya untuk benda yang mereka terima, melainkan untuk keberanian yang sudah mereka tunjukkan. Di luar gemerlap festival, inilah sihir sejati dari mendongeng: menciptakan ruang aman bagi anak untuk berekspresi, sementara orang tua di sekelilingnya menyaksikan versi mandiri dari putra-putri mereka. Hari itu tidak sekadar mencatat Sungai Lolipop Stroberi atau fragmen lucu Gatot, melainkan membuktikan bahwa di tengah gempuran gawai, dongeng lisan yang dibawakan dengan hati tetap sanggup menjadi magnet, jembatan antargenerasi, sekaligus guru terbaik yang tidak harus berdiri di depan papan tulis.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca