Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada 26 Juli tidak sekadar seremoni tahunan bagi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Delapan tahun terakhir, bank pelat merah ini menjadikan momen tersebut sebagai penegasan arah baru pembangunan pesisir: memadukan pemulihan alam dengan penguatan ekonomi lokal. Lewat Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan BNI Berbagi, sebanyak 258.000 bibit mangrove telah tertanam di lima titik strategis, membentang dari Mempawah di Kalimantan Barat hingga Pamekasan di ujung timur Jawa.
Pilihan BNI tidak berhenti pada seremoni tanam. Corporate Secretary Okki Rushartomo, dalam keterangan tertulisnya, menjelaskan bahwa rehabilitasi mangrove ditempuh sebagai Nature-based Solutions, menjawab ancaman abrasi, gelombang tinggi, dan kenaikan muka air laut. Namun, yang membedakan inisiatif ini adalah keterlibatan masyarakat sejak tahap paling awal. Kelompok tani dan warga pesisir digandeng bukan sekadar sebagai tenaga penanam, melainkan sebagai pengelola yang kelak turut memetik hasil ekonomi dari ekosistem yang mereka rawat.
Polri Tuntaskan 97 Kasus Buruh, DPR Ingatkan Perlindungan Sejak Dini

Pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa mangrove tidak melulu soal karbon dan pelindung pantai. Bibit yang ditanam di Banyuwangi, Kepulauan Seribu, atau Kebumen perlahan bertransformasi menjadi sumber penghidupan baru. Ekowisata berbasis hutan bakau mulai tumbuh, membuka lapangan kerja bagi pemandu lokal, penyedia jasa perahu, hingga warung-warung kecil di sekitar lokasi. Di sisi lain, deretan pohon mangrove menjadi habitat biota laut yang menopang hasil tangkapan nelayan, sekaligus bahan baku produk olahan seperti sirup, dodol, dan batik pewarna alami yang kini dikembangkan warga.
Dampak pendekatan ini terukur lewat evaluasi Program Regenerasi Hutan Mangrove di Banyuwangi. Indeks Kepuasan Masyarakat menyentuh angka 84,09%, menandakan bahwa warga bukan hanya menerima, tetapi benar-benar merasakan kualitas dan manfaat dari setiap tahap kegiatan. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa konservasi yang melibatkan tangan-tangan lokal mampu menumbuhkan rasa memiliki yang kuat, sekaligus mengurangi potensi kerusakan ulang di kemudian hari.
Stasiun Bekasi Ekstensi Menyatu dengan Summarecon dan LRT, Beban Penumpang Terurai

Di tengah transformasi BUMN di bawah naungan Danantara Indonesia, arah langkah BNI ini menemukan relevansinya. Semangat Swadharma Bhakti Nagara tidak dimaknai sebatas seruan moral, tetapi diurai menjadi program-program yang menciptakan nilai tambah berkelanjutan. Okki menekankan bahwa setiap inisiatif TJSL diarahkan agar efeknya menjalar ke perekonomian lokal, sejalan dengan fokus Danantara pada pertumbuhan yang inklusif. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas terus diperluas untuk memastikan bahwa bibit yang ditanam hari ini menjadi warisan produktif bagi generasi pesisir esok hari.






