Dapur Mandiri di Manggarai Barat, Wajah Baru Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Togar PanjaitanPublished 26 Jul 2026 - 07.21 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Dapur Mandiri di Manggarai Barat, Wajah Baru Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Ujung barat Pulau Flores menjadi saksi bisu peralihan takdir pada Jumat (24/7/2026). Di dalam ruang praktik UPTD Balai Latihan Kerja Kabupaten Manggarai Barat, sejumlah tangan cekatan meracik adonan, mengukus aneka kudapan, dan menghitung harga pokok produksi dengan serius. Mereka bukan murid kursus biasa; sebagian besar adalah para janda dan keluarga pekerja yang ditinggalkan pencari nafkah. Hari itu, duka perlahan diubah menjadi resep masa depan melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA) yang digagas BPJS Ketenagakerjaan.

Di sinilah paradigma baru jaminan sosial dihidupkan. Lembaga itu tak ingin perlindungan berhenti begitu santunan berpindah tangan. Secara regulasi, tugas teknis mereka rampung saat manfaat diterima ahli waris. Namun secara moral, ada tanggung jawab lebih dalam: memastikan keluarga penerima mampu bangkit, kembali produktif, dan memiliki penghasilan sendiri. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan, Bambang Joko Sutarto, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan tidak lagi bertumpu pada nominal santunan yang dibayarkan. “Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika penerima manfaat berdiri di atas kaki sendiri, memiliki usaha, memandang masa depan dengan optimistis. Santunan menyelamatkan hari ini, pemberdayaan menjaga hari esok,” ujarnya di sela dialog dengan peserta.

Also Read

Dari Adu Jago Membaca Peristiwa ke Lantai Bursa, Pasar Prediksi Goda Wall Street

Pilihan materi tata boga di Manggarai Barat bukan kebetulan. Kawasan yang menopang pariwisata premium seperti Labuan Bajo memerlukan pasokan kuliner berkualitas. Potensi pasar yang menggiurkan itu ditangkap oleh tim PEKA. Bambang menjelaskan, setiap pelatihan PEKA memang dirancang berdasarkan denyut ekonomi lokal. Peserta tidak sekadar belajar memasak; mereka digembleng mengemas produk, mengelola keuangan usaha, menyusun harga pokok, hingga merancang strategi pemasaran sederhana. Cara ini membuat uang santunan yang mungkin tadinya habis untuk konsumsi bisa berkembang menjadi modal usaha yang beranak-pinak.

Upaya tersebut menjadi semakin bermakna jika disandingkan dengan peta perlindungan di daerah itu. Dari potensi 114.306 tenaga kerja di Kabupaten Manggarai Barat, baru sekitar 37.770 pekerja yang telah terlindungi BPJS Ketenagakerjaan—terdiri atas 36.556 peserta segmen Penerima Upah dan Bukan Penerima Upah, serta 1.214 pekerja jasa konstruksi. Masih tersisa 76.536 pekerja yang rentan terhadap guncangan ekonomi, mayoritas dari sektor informal. Sementara itu, dana jaminan sosial yang bergulir menunjukkan denyut soliditas. Sepanjang 2025, BPJS Ketenagakerjaan di Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menyalurkan manfaat Rp511,71 miliar untuk 63.433 kasus, termasuk beasiswa bagi 727 anak. Hingga paruh pertama 2026, angkanya sudah mencapai Rp268,09 miliar bagi 34.445 kasus, dengan beasiswa untuk 457 anak.

Also Read

Transparansi Koka Indonesia Redam Gejolak Saham

Di dapur pelatihan itu, Bambang menitipkan harapan besar. Suatu hari nanti, para peserta PEKA tidak lagi dikenang sebagai ahli waris yang kehilangan, melainkan sebagai pebisnis kuliner yang berhasil membangun kembali kehidupan keluarganya. Di situlah jaminan sosial benar-benar menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar penahan duka, tetapi tumpuan untuk meracik kemandirian ekonomi. Dapur Mandiri di barat Flores itu pun menjelma potret bahwa perlindungan sejati tidak pernah berhenti pada cek bantuan, melainkan terus membara seperti api kompor yang menghidupkan harapan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca