Sejumlah badan usaha penyedia bahan bakar minyak (BBM), baik milik negara maupun swasta, resmi melakukan penyesuaian harga produk mereka terhitung mulai tanggal 1 Agustus. Langkah penyesuaian ini diambil oleh PT Pertamina (Persero) bersama beberapa perusahaan swasta seperti BP, VIVO, dan Shell. Dalam penyesuaian kali ini, terdapat penurunan harga untuk beberapa jenis BBM nonsubsidi golongan bensin, sementara beberapa produk bahan bakar diesel justru mengalami kenaikan harga.
Bagi konsumen Pertamina di wilayah DKI Jakarta dan daerah lain dengan tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen, penurunan harga terjadi pada produk BBM nonsubsidi jenis gasoline. Pertamax (RON 92) yang sebelumnya dijual seharga Rp 16.250 per liter kini turun menjadi Rp 15.950 per liter. Penurunan juga dialami oleh Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp 17.000 per liter menjadi Rp 16.600 per liter, serta Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp 19.300 per liter menjadi Rp 18.300 per liter. Di sisi lain, harga untuk bahan bakar diesel nonsubsidi Pertamina, yaitu Pertamina Dex dan Dexlite, dilaporkan tidak mengalami perubahan. Pertamina Dex tetap bertahan pada harga Rp 21.150 per liter.
Sementara itu, masyarakat yang menggunakan bahan bakar bersubsidi tidak perlu khawatir karena pemerintah tidak mengubah harga jualnya. Harga untuk produk Pertalite dipastikan tetap berada di angka Rp 10.000 per liter. Begitu pula dengan Solar subsidi atau Bio Solar yang harganya tidak mengalami perubahan dan tetap dijual Rp 6.800 per liter di seluruh wilayah Indonesia.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Perusahaan swasta BP dan VIVO juga terpantau kompak menurunkan harga produk bensin mereka namun menaikkan harga produk diesel. Untuk BP, harga BP 92 mengalami penurunan dari Rp 16.670 per liter menjadi Rp 16.130 per liter. Produk BP Ultimate juga turun dari Rp 17.240 per liter menjadi Rp 16.760 per liter. Sebaliknya, harga BP Ultimate Diesel disesuaikan naik dari Rp 21.340 per liter menjadi Rp 21.910 per liter.
Pola pergerakan harga yang serupa juga terjadi pada SPBU VIVO. Harga untuk Revvo 92 mengalami penurunan dari Rp 16.670 menjadi Rp 16.130 per liter, dan Revvo 95 turun dari Rp 17.240 menjadi Rp 16.760 per liter. Sementara itu, varian Diesel Primus dari VIVO naik dari Rp 21.340 menjadi Rp 21.910 per liter. Adapun untuk Shell, yang dalam penyesuaian ini hanya menjual V-Power Diesel, turut menaikkan harga produk diesel tersebut menjadi Rp 21.910 per liter dari harga sebelumnya Rp 21.340 per liter.
Selain di wilayah ibu kota, penyesuaian harga BBM nonsubsidi milik Pertamina juga diberlakukan di berbagai provinsi lain dengan nominal yang bervariasi. Di Provinsi Aceh, harga Pertamax disesuaikan menjadi Rp 16.300 per liter dari sebelumnya Rp 16.650, dan Pertamax Turbo menjadi Rp 18.700 per liter dari sebelumnya Rp 19.750. Sementara itu, di wilayah Free Trade Zone (FTZ) Sabang, harga Pertamax turun menjadi Rp 14.950 per liter dari Rp 15.250, sedangkan harga Dexlite tetap di angka Rp 18.450 per liter.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Untuk wilayah Sumatera Barat, Pertamax mengalami penurunan dari Rp 17.000 menjadi Rp 16.650 per liter, dengan harga Pertamina Dex yang bertahan di angka Rp 22.100 per liter. Di wilayah FTZ Batam, harga Pertamax turun menjadi Rp 15.150 per liter dari sebelumnya Rp 15.500, dan Pertamax Turbo disesuaikan menjadi Rp 17.400 per liter dari sebelumnya Rp 18.350.
Bergeser ke wilayah tengah dan timur Indonesia, penyesuaian serupa juga terjadi di Bali dan Papua. Di Bali, harga Pertamax turun menjadi Rp 15.900 per liter dari sebelumnya Rp 16.250, sementara Dexlite tetap di harga Rp 19.700 per liter. Di Papua, harga Pertamax disesuaikan menjadi Rp 16.300 per liter dari sebelumnya Rp 16.650, sedangkan harga Dexlite tidak berubah dan tetap berada pada angka Rp 20.150 per liter. Penyesuaian harga ini diharapkan dapat dipahami oleh masyarakat luas sebagai bagian dari dinamika harga pasar bahan bakar di tanah air.






