Bukan Soal Jumlah Massa, Aksi Bela Palestina di Patung Kuda Tekankan Konsistensi Ibadah

Andi TobanPublished 26 Jul 2026 - 21.15 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Bukan Soal Jumlah Massa, Aksi Bela Palestina di Patung Kuda Tekankan Konsistensi Ibadah
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Ribuan pendukung perjuangan rakyat Gaza memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7/2026), mengubah area Monas menjadi lautan atribut merah, putih, hitam, dan hijau. Aksi yang dimulai sejak pagi itu membuat sejumlah ruas jalan di sekitarnya terpaksa ditutup, termasuk Jalan Medan Merdeka Selatan dari arah Gambir menuju Patung Kuda dan sebaliknya. Di tengah terik yang kian menyengat, massa terus berdatangan, mengibarkan bendera Palestina dan Merah Putih berdampingan sebagai penanda bahwa solidaritas belum pudar.

Di antara bendera yang berkibar, puluhan poster menyuarakan protes keras. Kalimat “Gugat Penjahat Kemanusiaan” dan “Forgive Us Gaza” muncul di pelbagai sudut, sementara sebuah panggung didirikan tepat di jantung aksi untuk mengalirkan orasi. Tajuk yang diusung—“Gaza for Israel Jika Kita Tetap Diam”—menjadi pengingat tajam bahwa diam di tengah kekerasan sama artinya dengan menyerahkan masa depan Gaza kepada para penyerang.

Salah satu orator dari atas panggung menekankan bahwa Indonesia tidak akan memilih sunyi meski banyak negara lain memilih bungkam. Seruan “Indonesia tidak diam” itu sontak disambut gemuruh takbir. Namun, gaung yang paling menancap justru datang dari Aktivis Kemanusiaan Muhammad Husein Gaza. Ia mengingatkan bahwa genosida dan pembantaian di Gaza belum berhenti, sehingga aksi jalanan semacam ini tidak boleh berhenti.

Also Read

PKB Nilai Prabowo Demokrat Sejati Usai Sebut Hati PDIP Sama dengan Pemerintah

Husein menyebut para hadirin sebagai “sisa-sisa kehormatan” yang masih bersedia berdiri tegak di saat mayoritas mulai lelah dan lesu. Ia meminta peserta tidak menumpahkan air mata di trotoar Patung Kuda, melainkan mencurahkannya pada sepertiga malam. Baginya, doa-doa yang tersembunyi di kegelapan justru menjadi bentuk tangis yang lebih tajam untuk kelemahan umat.

Pesan yang paling membedakan aksi kali ini adalah penolakan Husein terhadap ukuran-ukuran konvensional keberhasilan demo. Bukan jumlah peserta yang membludak, bukan pula jumlah donasi yang tercatat, yang ia sebut sebagai barometer. Katanya, “Barometer kesuksesan kita dalam aksi hari ini bukan seberapa banyak yang hadir, bukan seberapa banyak donasi yang terkumpul.” Ia justru menyodorkan parameter yang tak kasat mata: konsistensi dalam ibadah dan kemampuan memakmurkan masjid-masjid di sekitar tempat tinggal.

Also Read

Saat Tembok Dagang Berdiri di Antara Dua Sahabat Lama

Puncak pesannya menyentuh inti spiritual: kemerdekaan Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis tidak akan terwujud jika masjid-masjid di lingkungan sendiri masih kosong dan sunyi dari jamaah salat lima waktu. Husein menegaskan bahwa langkah kaki menuju masjid setiap hari adalah bukti tertinggi perjuangan membela tanah suci, jauh melampaui kehadiran di aksi-aksi jalanan. Ajakan itu pun menutup orasi, mengubah keramaian Patung Kuda menjadi perenungan bahwa solidaritas sejati justru dimulai dari kebiasaan paling sunyi di tengah hiruk-pikuk kota.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca