Nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencatatkan peningkatan yang cukup signifikan dan berhasil mencapai angka US$3,43 miliar pada tahun 2025. Perkembangan positif ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-18 sebagai negara pemasok barang terbesar ke Arab Saudi. Posisi ini menunjukkan adanya kenaikan kelas yang nyata jika dibandingkan dengan kondisi perdagangan bilateral kedua negara pada dua dekade sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa sejumlah komoditas asal Indonesia kini memiliki posisi tawar yang kuat di pasar Arab Saudi. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, atau yang akrab disapa Winny, menjelaskan bahwa komoditas seperti minyak sawit, kopi, hingga produk kayu menjadi andalan ekspor utama Indonesia yang sukses menguasai pangsa pasar yang cukup besar di negara Timur Tengah tersebut.
Minyak sawit merupakan komoditas ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi dengan nilai impor yang mencapai US$706,47 juta. Dengan capaian ini, Indonesia berhasil menguasai pangsa pasar sebesar 38,29 persen, yang berarti lebih dari sepertiga dari total kebutuhan impor minyak sawit di Arab Saudi dipasok oleh produsen Indonesia. Pangsa pasar minyak sawit Indonesia ini tercatat jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara pesaing lainnya seperti Malaysia yang hanya menguasai 12,74 persen pasar, Ukraina dengan 7,69 persen, serta Oman dengan 5,98 persen.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Selain minyak sawit, komoditas kayu dan barang dari kayu juga mencatatkan kinerja ekspor yang solid dengan nilai mencapai US$146,86 juta dan mengamankan pangsa pasar sebesar 8,08 persen. Dalam memasok produk kayu ke Arab Saudi, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara seperti China, Thailand, dan Finlandia. Sementara itu, untuk komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$122,13 juta dengan pangsa pasar 6,61 persen. Pada sektor ini, eksportir Indonesia bersaing ketat dengan kompetitor dari Etiopia, India, dan Guatemala.
Komoditas ekspor Indonesia lainnya yang juga memiliki kinerja baik adalah kertas dan produk turunannya. Nilai ekspor untuk produk kertas ini mencapai US$103,61 juta dengan pangsa pasar sebesar 5,92 persen. Di samping itu, ekspor olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska dari Indonesia ke Arab Saudi juga menunjukkan angka yang menjanjikan, yakni mencapai nilai US$78,35 juta dengan pangsa pasar sebesar 19,60 persen. Untuk kategori olahan pangan ini, pangsa pasar Indonesia berada di bawah Thailand yang menguasai 27,79 persen pasar, namun Indonesia masih lebih unggul dibandingkan Malaysia yang hanya mencatatkan pangsa pasar sebesar 9,74 persen.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Indonesia juga mengekspor biji dan buah yang mengandung minyak dengan nilai mencapai US$66,88 juta dan pangsa pasar sebesar 7,27 persen. Selain itu, produk alas kaki dari Indonesia turut menyumbang nilai ekspor sebesar US$59,28 juta dengan pangsa pasar sebesar 5,30 persen. Namun, khusus untuk komoditas alas kaki ini, pangsa pasar Indonesia masih tertinggal jauh di bawah China yang mendominasi dengan 52,33 persen pangsa pasar di Arab Saudi, diikuti oleh Vietnam dengan 15,93 persen, dan Italia dengan 11,56 persen.
Pencapaian Indonesia di peringkat ke-18 pada tahun 2025 ini menandai perkembangan yang sangat pesat. Sebagai perbandingan, pada tahun 2005 silam, Indonesia masih berada di peringkat ke-24 sebagai negara asal impor Arab Saudi, dengan nilai ekspor yang hanya sebesar US$517,61 juta dan pangsa pasar yang sangat kecil, yaitu 0,90 persen. Pergeseran posisi Indonesia ini juga terjadi di tengah perubahan peta persaingan dagang di Arab Saudi. Dua dekade lalu, pasar impor Arab Saudi masih didominasi oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman. Namun saat ini, China telah bergeser menjadi pemasok terbesar bagi Arab Saudi, yang kemudian disusul oleh Amerika Serikat, Uni Emirat Arab (UEA), dan India.






