Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan memprediksi musim kemarau di Kalimantan Utara masih akan berlangsung hingga Oktober 2026. Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Agus Ariyanto, menyatakan bahwa fenomena El Nino juga masih tetap aktif hingga akhir tahun, sehingga memicu kekeringan cukup parah di beberapa wilayah di Kalimantan Utara. Kondisi suhu muka laut di Samudera Pasifik saat ini terpantau lebih hangat dibandingkan dengan kondisi normal, yang berpotensi menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Dampak dari fenomena El Nino tersebut sangat dirasakan di beberapa daerah. Di wilayah Kabupaten Bulungan, cuaca terpantau mengalami panas ekstrem dengan suhu rata-rata saat ini berada di atas 34 hingga 35 derajat Celsius. Kondisi serupa juga terjadi di Tanjung Selor, di mana suhu cuacanya tergolong ekstrem. Bahkan, Tanjung Selor telah terpantau beberapa kali menjadi salah satu dari 10 kota dengan suhu udara tertinggi di Indonesia. Sebaliknya, wilayah pesisir seperti Tarakan dan Nunukan dinilai memiliki suhu udara di bawah tingkat ekstrem tersebut.
Praperadilan Febrie Adriansyah, Tim Hukum Ungkap 30 Dugaan Pelanggaran Prosedural

Selain memicu cuaca panas ekstrem, El Nino juga membawa potensi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Utara. Saat ini, sejumlah titik panas telah terdeteksi di Kalimantan Utara, dan kabut asap akibat karhutla mulai menyelimuti wilayah Tanjung Selor. Terkait kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipicu oleh cuaca kering tersebut.
Dampak kekeringan akibat pengaruh El Nino ini juga meluas ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Beberapa area tanaman padi, khususnya di lahan tadah hujan, kini menghadapi ancaman kekeringan yang serius. Di Cawas, Klaten, siswa dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Burikan bahkan harus membawa ember berisi air dari rumah ke sekolah. Selain itu, debit air di aliran Sungai Cisokan yang menjadi sumber air baku juga mengalami penyusutan, sehingga distribusi air bersih harus dilakukan setiap hari karena persediaan air warga terus menyusut. Bencana karhutla pun dilaporkan melanda Klaten, Magetan, Jombang, dan Seram Bagian Timur dengan total luas lahan terbakar mencapai 11,5 hektare. BNPB mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terkait musim kemarau.
Ketua Yayasan Aresha Didakwa Gunakan Izin Tak Sesuai untuk Daycare Anak

Di sisi lain, BMKG dan BNPB juga memantau aktivitas seismik serta kondisi cuaca di wilayah lainnya. Pascagempa berkekuatan Magnitudo 7,7 di Flores, NTT, BMKG mengerahkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik serta verifikasi dampak tsunami guna pemetaan mikro-zonasi bencana. Sementara itu, gempa bumi tektonik mengguncang perairan Nias Selatan, Sumatra Utara pada Selasa (18/8). Gempa tersebut awalnya dilaporkan berkekuatan Magnitudo 6,1 dan terasa cukup kuat di Kota Padang. Namun, analisis terbaru dari Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menunjukkan bahwa gempa tersebut memiliki magnitudo 5,8 dengan kedalaman 35 kilometer akibat aktivitas subduksi. BNPB memastikan bahwa gempa di Nias Selatan tersebut tidak berpotensi tsunami. Sementara itu, BMKG memprakirakan wilayah Sumatra Utara akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat selama sepekan ke depan akibat adanya belokan angin dan suhu muka laut yang hangat.






