Popularitas drama Cina atau yang sering disebut sebagai dracin tengah mengalami peningkatan di Indonesia. Tren ini rupanya membawa dampak positif bagi industri kreatif lokal, khususnya bagi para pelaku industri sulih suara. Peluang pendapatan baru kini terbuka lebar bagi para pengisi suara dan studio rekaman yang terlibat dalam proses penerjemahan suara ke dalam bahasa Indonesia.
Terkait perkembangan ini, Presiden Komunitas Voice Over, Dubber, dan Announcer Indonesia (KVDAI), Arif Budiman, memberikan penjelasannya. Saat berbicara kepada Tirto pada hari Jumat, 14 Agustus 2026, Arif mengonfirmasi bahwa popularitas drama Cina memang membuka peluang tersendiri bagi ekosistem sulih suara di Indonesia. Maraknya permintaan dari pasar membuat kehadiran studio-studio rekaman baru terus bermunculan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang dinamis ini.
Salah satu studio baru yang turut mengambil peran dalam industri ini adalah RHS Studio. Studio yang baru didirikan pada Maret 2026 ini aktif menggarap proyek-proyek sulih suara drama Cina. Menurut penjelasan dari Qolbi Rachman, yang menjabat sebagai produser di RHS Studio, proses penyulihan suara untuk drama Cina dengan durasi 1,5 jam normalnya membutuhkan waktu penyelesaian sekitar dua hingga tiga hari. Qolbi juga menambahkan bahwa saat RHS Studio sedang menerima banyak proyek, mereka membatasi pengerjaan dan hanya bisa menggarap tiga judul saja. Setiap judul yang dikerjakan oleh RHS Studio memiliki durasi maksimal yang berkisar antara 200 hingga 250 menit.
Mengapa Kita Lebih Takut Sampah Plastik Dibanding Sisa Makanan?

Dari segi pembiayaan, anggaran yang dialokasikan untuk pengerjaan proyek sulih suara ini bervariasi. Untuk satu judul drama dengan durasi berkisar antara 1,5 jam hingga 1 jam 45 menit, anggaran yang disiapkan dapat mencapai Rp10 juta, Rp12 juta, atau Rp15 juta. Anggaran tersebut menjadi dasar bagi studio untuk membagi pendapatan kepada para pengisi suara yang terlibat di dalamnya.
Bagi para pengisi suara seperti Dina Amalina, proyek sulih suara drama Cina ini menjadi sumber penghasilan yang nyata. Dina Amalina, yang berprofesi sebagai salah satu voice actor, membagikan informasi mengenai besaran honorarium yang diterima oleh para pengisi suara. Untuk pemeran utama, honor yang diperoleh berkisar antara Rp400.000 hingga Rp700.000 per judul. Sementara itu, bagi pengisi suara yang memerankan karakter pendukung, mereka mendapatkan honor sekitar Rp250.000 sampai Rp500.000 per judul. Selain sistem paket per judul tersebut, terdapat pula beberapa studio yang menerapkan sistem pembayaran honor berdasarkan jumlah line atau kalimat yang direkam oleh voice actor.
Pemerintah Perketat Penyaluran BBM Subsidi, Pengguna Mobil Wajib Miliki Barcode Pertamina

Perkembangan industri sulih suara yang didorong oleh popularitas drama Cina ini juga menarik perhatian para ahli. Putu Rusta Adijaya, seorang peneliti bidang ekonomi dari The Indonesian Institute Center for Public Policy Research (TII), turut mengamati dinamika ekonomi yang terjadi di sektor ini. Selain itu, pengamat ekonomi kreatif Harry Waluyo juga memantau bagaimana industri kreatif lokal merespons peluang baru yang hadir dari luar negeri ini. Kehadiran para pengamat dan peneliti ini menunjukkan bahwa industri sulih suara kini menjadi bagian penting yang diperhitungkan dalam ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia.






