Kesadaran publik Indonesia terhadap isu lingkungan masih timpang. Hasil analisis terbaru dari Monash University Indonesia menunjukkan bahwa porsi perbincangan mengenai sampah makanan di ruang digital tidak sampai 1 persen. Padahal, data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menempatkan sisa makanan sebagai penyumbang sampah terbesar di Indonesia, jauh melampaui sampah plastik yang selama ini menjadi musuh bersama masyarakat. Ketimpangan perhatian ini menjadi sorotan penting di tengah ancaman kelebihan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) nasional pada tahun 2028.
Peneliti di Data and Democracy Research Hub (MDDRH) Monash University Indonesia, Iin Yumiyanti, bersama Adryan Kusumawardhana, mahasiswa doktoral yang meneliti pengelolaan sampah dalam Proyek DigSmart, melakukan analisis komprehensif terhadap 139.039 judul berita daring serta 81.490 unggahan di platform media sosial X sepanjang Desember 2023 hingga Januari 2026. Hasilnya menunjukkan isu sampah plastik secara konsisten mendominasi panggung digital dengan raihan 6,7 persen di media daring dan 10,1 persen di platform X. Bahkan, pembahasan mengenai daur ulang plastik mencapai 98,9 persen di berita daring, sementara pencemaran plastik di laut mencapai 97 persen di X. Sebaliknya, bahaya laten sampah organik hampir tidak terdengar.
Ketua Yayasan Aresha Didakwa Gunakan Izin Tak Sesuai untuk Daycare Anak

Ketakutan publik yang berlebih pada plastik berbanding terbalik dengan data riil di lapangan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLH, total sampah nasional di Indonesia mencapai 33 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sampah makanan menyumbang porsi terbesar, yaitu mencapai 40,25 persen atau sekitar 13 juta ton per tahun. Jumlah ini setara dengan 35.000 hingga 37.000 ton sisa makanan yang terbuang setiap harinya. Sementara itu, sampah plastik berada di urutan kedua dengan kontribusi sekitar 19 hingga 20 persen, disusul oleh sampah kayu dan ranting di posisi ketiga sebesar 13 persen.
Dampak dari besarnya volume sampah makanan ini tidak main-main bagi lingkungan global. Food loss and waste (FLW) menyumbang hingga 10 persen dari emisi gas rumah kaca global, dengan proyeksi emisi metana yang akan berlipat ganda pada tahun 2050 jika tidak ditangani secara serius. Secara global, Food Waste Index Report 2024 dari UNEP mencatat sebanyak 1,05 miliar ton makanan terbuang sia-sia pada tahun 2022, yang mewakili hampir seperlima dari total pasokan pangan dunia. Sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 60 persen, disusul layanan makanan sebesar 28 persen dan ritel sebesar 12 persen. UNEP sendiri menyatakan tidak akan memperbarui estimasi global ini hingga tahun 2026.
Mengukur Perkembangan Pembangunan IKN Jelang Upacara HUT RI

Tingginya perhatian publik terhadap sampah plastik sebelumnya telah berhasil memicu kebijakan konkret, seperti larangan kantong plastik di Denpasar, Samarinda, Jambi, dan Bogor pada 2018, yang kemudian disusul oleh Jakarta pada 2020. Di sisi lain, meskipun perbincangan tentang peran korporasi dalam pengelolaan sampah di platform X didominasi oleh isu sampah organik sebesar 75 persen, aksi nyata untuk menekan sampah makanan masih minim. Kondisi ini mendesak adanya perubahan fokus kebijakan, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto menyerukan perang nasional terhadap sampah guna mengantisipasi ancaman TPA yang diperkirakan penuh total pada tahun 2028.






